“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 3)
Ayat ini menekankan pentingnya menjaga waktu dan energi agar tidak dihabiskan untuk hal-hal yang tidak berguna, termasuk perdebatan yang tidak membawa manfaat.
4. Menghindari Perdebatan di Media Sosial
Media sosial sering menjadi tempat yang memicu perdebatan yang tidak perlu. Banyak orang merasa lebih bebas untuk menyampaikan pendapat tanpa mempertimbangkan dampaknya. Sebagai Muslim, kita harus bijak dalam menggunakan media sosial dengan menghindari perdebatan yang hanya membuang waktu dan memperkeruh suasana.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu (adalah) orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan 'salam'.” (QS. Al-Furqan: 63)
Ayat ini mengajarkan kita untuk bersikap tenang dan tidak terpancing dalam perdebatan yang tidak perlu.
Baca Juga: Mengapa Sedekah Bisa Membuka Pintu Rezeki? Ini Keutamaannya dalam Islam
5. Bersikap Rendah Hati dan Tidak Selalu Ingin Menang
Sering kali perdebatan menjadi tidak bermanfaat karena masing-masing pihak ingin membuktikan bahwa mereka benar. Islam mengajarkan kita untuk bersikap rendah hati dan tidak selalu ingin menang dalam setiap argumen. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)
Sikap rendah hati akan membantu kita menghindari perdebatan yang sia-sia dan menjaga hubungan baik dengan sesama.
6. Mengingat Tujuan Hidup sebagai Muslim
Sebagai Muslim, tujuan utama kita dalam hidup adalah untuk beribadah kepada Allah SWT dan menebarkan kebaikan di dunia. Jika suatu perdebatan tidak mendukung tujuan tersebut, maka lebih baik untuk ditinggalkan. Rasulullah SAW bersabda:
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)