Beliau segera kembali ke rumahnya dengan hati yang gemetar. Setibanya di rumah, beliau meminta istrinya, Khadijah binti Khuwailid, untuk menyelimutinya.
Khadijah yang penuh kasih sayang segera menenangkan suaminya dan meyakinkan bahwa Allah tidak akan meninggalkannya.
Baca Juga: Cara Agar Puasa Ramadhan Tidak Sekadar Menahan Lapar dan Haus
Reaksi Nabi Muhammad SAW dan Dukungan Khadijah
Khadijah kemudian membawa Nabi Muhammad SAW menemui Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani yang dikenal memiliki pengetahuan tentang kitab-kitab suci sebelumnya.
Setelah mendengar kisah Muhammad SAW, Waraqah berkata bahwa yang datang kepadanya adalah malaikat yang pernah datang kepada Nabi Musa AS, dan bahwa Muhammad SAW adalah nabi yang diutus kepada umat manusia.
Waraqah juga memperingatkan bahwa akan ada banyak tantangan dan perlawanan dari kaumnya setelah beliau mulai berdakwah.
Setelah menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad SAW mulai menyadari bahwa dirinya telah diangkat sebagai Rasulullah, utusan Allah SWT.
Namun, beliau belum langsung berdakwah secara terbuka. Masa-masa awal kenabian dijalani dengan banyak perenungan dan bimbingan dari Allah SWT hingga akhirnya datang wahyu-wahyu selanjutnya.
Baca Juga: Mengapa Puasa Dapat Menjadi Perisai dari Dosa?
Makna dan Hikmah dari Turunnya Wahyu Pertama
Turunnya wahyu pertama memiliki makna mendalam bagi umat Islam. Ayat pertama yang diturunkan mengandung perintah untuk membaca, yang menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dalam Islam.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi pendidikan dan pembelajaran.
Selain itu, peristiwa ini juga mengajarkan bahwa dalam menghadapi tugas besar, seorang pemimpin atau utusan Allah akan mendapatkan dukungan dan bimbingan dari orang-orang terdekat.
Peran Khadijah sebagai istri yang penuh pengertian dan dukungan moral dari Waraqah bin Naufal menjadi contoh bagaimana lingkungan yang positif dapat membantu seseorang menjalankan tugasnya dengan lebih baik.