Setelah wafatnya Rasulullah SAW, Abu Ubaidah menjadi salah satu pemimpin militer yang paling dihormati dalam ekspansi Islam.
Pada masa Khalifah Abu Bakar, ia diangkat sebagai panglima dalam penaklukan Syam. Dalam berbagai pertempuran, seperti Yarmuk, ia menunjukkan strategi yang brilian dan keberanian luar biasa, yang membuat pasukan Romawi mengalami kekalahan besar.
Abu Ubaidah juga dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati dan tidak tergoda oleh harta atau kekuasaan.
Ketika Khalifah Umar bin Khattab mengunjungi Syam, ia mendapati Abu Ubaidah tinggal di rumah yang sederhana tanpa perabotan mewah, meskipun ia adalah gubernur wilayah tersebut.
Baca Juga: Imam Malik: Pendiri Mazhab Maliki dan Keilmuannya dalam Hadis
Akhir Hidup dan Warisan
Pada tahun 639 M, wabah tha’un (pes) melanda Syam, dan Abu Ubaidah termasuk di antara yang terjangkit penyakit tersebut.
Meski bisa memilih untuk pergi dari daerah wabah, ia menolak dan tetap bersama rakyatnya hingga akhirnya wafat.
Sebelum meninggal, ia memberikan nasihat kepada umat Muslim untuk tetap bertakwa kepada Allah dan berpegang teguh pada ajaran Islam.
Setelah wafatnya, ia dikenang sebagai salah satu pahlawan terbesar dalam sejarah Islam.Abu Ubaidah bin Jarrah adalah sosok yang luar biasa dalam sejarah Islam.
Kejujuran, keberanian, dan kepemimpinannya menjadikannya salah satu sahabat yang paling dicintai Rasulullah SAW.
Kisah hidupnya mengajarkan banyak nilai, termasuk keteguhan iman, keberanian dalam menghadapi tantangan, serta kesederhanaan dan keikhlasan dalam memimpin.
Tidak heran jika Rasulullah SAW menyebutnya sebagai “Amin umat ini” atau penjaga amanah umat Islam.