IFA.id -- Kaum Saba, yang mendiami wilayah Yaman kuno, dikenal sebagai masyarakat yang hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan.
Mereka menikmati tanah yang subur dengan dua kebun di kiri dan kanan, menghasilkan panen melimpah.
Allah SWT menganugerahkan mereka dengan lingkungan yang nyaman dan rezeki yang berlimpah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an Surah Saba' ayat 15.
Baca Juga: KH As'ad Humam: Pelopor Metode Iqra' yang Mengubah Pembelajaran Al-Qur'an
Namun, alih-alih mensyukuri nikmat tersebut, kaum Saba mulai berpaling dari Allah dan tenggelam dalam kekufuran.
Mereka mengabaikan perintah-Nya dan tidak lagi menjaga amanah yang diberikan. Sebagai akibat dari sikap ingkar ini, Allah mengirimkan banjir besar yang dikenal sebagai "Sail al-'Arim" yang menghancurkan bendungan Ma'rib, sumber utama irigasi mereka.
Banjir ini merusak kebun-kebun subur mereka, mengubahnya menjadi lahan tandus yang hanya ditumbuhi pohon-pohon yang tidak bermanfaat.
Baca Juga: Menjunjung Adab Sebelum Ilmu: Fondasi Utama dalam Keilmuan Islam
Kehancuran ini menyebabkan kaum Saba tercerai-berai dan meninggalkan tanah air mereka. Tragedi ini menjadi pelajaran bagi umat manusia tentang pentingnya mensyukuri nikmat Allah dan menjaga ketaatan kepada-Nya.
Kisah kaum Saba diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai peringatan bahwa kemakmuran tanpa rasa syukur dan ketaatan dapat berujung pada kehancuran.