IFA.id -- Di balik sejarah Islam yang kaya, terdapat kisah penuh ketabahan dan keimanan yang mengajarkan kesabaran serta kepasrahan kepada Allah.
Salah satu kisah luar biasa adalah perjalanan Hajar, istri Nabi Ibrahim, yang bersama putranya, Nabi Ismail, mengalami ujian berat di tengah padang pasir.
Dari keteguhan hati seorang ibu inilah lahir keajaiban air zam-zam, sumber mata air yang terus mengalir hingga hari ini dan menjadi berkah bagi umat manusia.
Baca Juga: Al-Khwarizmi Seorang Ilmuwan Muslim yang Menemukan Aljabar dan Mempengaruhi Teknologi Modern
Hajar: Seorang Ibu yang Diuji di Padang Pasir
Hajar adalah istri Nabi Ibrahim yang melahirkan Ismail. Namun, atas perintah Allah, Ibrahim harus membawa Hajar dan Ismail ke sebuah tempat yang gersang, yaitu lembah Makkah yang saat itu belum dihuni siapa pun.
Setelah beberapa waktu, Ibrahim meninggalkan mereka di sana dengan hanya sedikit bekal.
Saat Ibrahim hendak pergi, Hajar bertanya, “Wahai Ibrahim, apakah ini perintah dari Allah?” Ketika Ibrahim mengiyakan, Hajar pun menerima dengan penuh keyakinan bahwa Allah tidak akan membiarkan mereka terlantar. Inilah bukti keteguhan iman dan tawakal yang luar biasa.
Baca Juga: Mengapa Nabi Adam Diturunkan ke Bumi? Kisah Penciptaan dan Ujian di Surga
Perjuangan Hajar Mencari Air
Ketika persediaan air habis, Ismail yang masih bayi menangis kehausan. Hajar, dengan naluri keibuannya, berlari mencari air.
Ia berusaha mencari pertolongan dengan naik ke Bukit Shafa, lalu berlari ke Bukit Marwah, berharap menemukan seseorang atau sumber air.
Hajar melakukan perjalanan ini sebanyak tujuh kali, tanpa hasil. Namun, ia tetap berusaha dan tidak menyerah.
Perjuangannya inilah yang kemudian diabadikan dalam rukun haji dan umrah, yaitu Sa’i, yang dilakukan oleh setiap muslim yang menunaikan ibadah tersebut.
Munculnya Keajaiban Air Zamzam
Saat Hajar kelelahan, Allah menunjukkan keajaiban-Nya. Mata air Zamzam mulai memancar dari bawah kaki Ismail, yang menghentakkan kakinya ke tanah dalam keadaan haus.
Melihat air keluar dari tanah, Hajar segera membendungnya dengan tangannya sambil berkata "Zamzam, zamzam", yang berarti "berkumpullah, berkumpullah."
Sejak saat itu, air Zamzam terus mengalir dan menjadi sumber kehidupan bagi Makkah. Berkat keberadaan air ini, orang-orang mulai berdatangan dan menetap di sekitar lembah tersebut, hingga akhirnya berkembang menjadi kota suci Makkah.