Kamis, 4 Juni 2026

Ketika Ghibah Menghancurkan Reputasi dan Persaudaraan

- Senin, 17 November 2025 | 16:50 WIB
Ghibah mungkin terasa ringan di lisan, tetapi berat akibatnya bagi hati. Jagalah ucapan, karena satu kata mampu meretakkan persaudaraan yang telah lama terjaga. (Foto/Ilustrasi)
Ghibah mungkin terasa ringan di lisan, tetapi berat akibatnya bagi hati. Jagalah ucapan, karena satu kata mampu meretakkan persaudaraan yang telah lama terjaga. (Foto/Ilustrasi)

 

IFA.id - mencatat satu fenomena yang terus berulang dari masa ke masa, baik di majelis kecil, ruang kantor, grup keluarga, hingga kolom komentar media sosial: ghibah sering muncul tanpa disadari dan sering dianggap sebagai percakapan ringan.

Namun, siapa yang menyangka obrolan sepele itu mampu merobek reputasi seseorang, bahkan memutus persaudaraan yang sudah dibangun dengan kepercayaan.

Pernah ada momen ketika seseorang bercerita tentang pribadi lain, lalu suasana mendadak menjadi lebih hidup, seolah kabar itu memberikan energi tambahan. Ada yang tersenyum simpul, ada yang ikut menambah cerita, ada pula yang diam namun memendam.

Begitulah ghibah bekerja, pelan namun mematikan. Saat Nabi Muhammad menegaskan bahwa ghibah adalah menyebut sesuatu tentang saudaramu yang ia tidak suka, itu bukan sekadar definisi, tetapi peringatan bahwa satu kalimat bisa mengubah nasib hubungan.

Baca Juga: Cara Membersihkan Hati dari Kebiasaan Ghibah

Di era modern, ghibah punya “sayap baru”. Bukan hanya lewat bisikan atau obrolan dapur, tetapi menyebar dengan kecepatan cahaya lewat gawai.

IFA.id melihat bagaimana satu potongan cerita yang salah atau dibesar-besarkan bisa menjadi viral, dan reputasi seseorang runtuh dalam hitungan jam. Yang menakutkan, pelakunya tidak merasa sedang bergibah. Mereka merasa hanya membagikan informasi.

Reputasi: Sekali Robek, Sulit Dipulihkan

Dalam ruang sosial, reputasi adalah aset seperti pakaian terbaik yang dikenakan seseorang. Reputasi dibangun saban hari lewat perbuatan baik, komitmen, kerja keras, dan akhlak.

Namun, ada kalanya reputasi dicuri tanpa izin, bukan karena kesalahan pemiliknya, tetapi karena lidah orang lain mempertaruhkan nama itu demi sensasi.

Baca Juga: Ghibah Digital: Dosa Lama di Era Media Sosial

Bayangkan seseorang yang dikenal sabar, jujur, dan amanah. Lalu ada satu cerita miring yang dibisikkan dari satu telinga ke telinga lain.

Tidak penting apakah cerita itu benar atau tidak, yang penting ia sudah beredar, dan setiap orang menambahkan warna masing-masing. Pada titik tertentu, nama baik yang dibangun bertahun-tahun runtuh hanya dengan satu percakapan.

IFA.id menemukan banyak kisah serupa di lingkungan keluarga, kampus, komunitas, hingga tempat kerja.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X