IFA.id - Ada masa di mana dunia terasa asing. Tempat yang dulu kita percaya penuh warna, tiba-tiba berubah kelabu.
Orang-orang yang pernah kita panggil “teman”, perlahan menjauh tanpa alasan.
Rencana yang disusun dengan harapan, runtuh tanpa peringatan.
Dan hati yang tadinya kuat, mulai retak dalam diam.
Namun di tengah kehancuran itu, ada sesuatu yang tak bisa direnggut oleh dunia—pelukan dari Allah.
Bukan pelukan yang bisa dirasa oleh kulit, tapi oleh jiwa yang lelah.
Bukan pelukan yang terlihat, tapi terasa hangat di dada, menenangkan air mata, meneguhkan iman.
Baca Juga: Tenanglah, Hati yang Pernah Disakiti pun Bisa Sembuh Bersama Allah
Ketika Dunia Menolak, Allah Mendekap
Kita sering kali sibuk mencari pengakuan manusia.
Kita ingin dihargai, dimengerti, dicintai. Tapi dunia punya cara yang tak selalu adil.
Kadang kita sudah berbuat baik, tapi dibalas dengan luka.
Kita sudah jujur, tapi justru disalahpahami.
Kita sudah sabar, tapi malah ditinggalkan.
Namun Allah tidak seperti itu.
Setiap air mata yang jatuh, Ia tahu alasannya.
Setiap rasa sakit yang kau sembunyikan, Ia catat sebagai amal sabar.
Setiap kekecewaan yang tak terucap, Ia ganti dengan kekuatan yang lembut pelan tapi nyata.
Baca Juga: Ketika Semua Pergi, Allah Tetap di Sini
Allah berfirman: “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf: 16)
Ayat ini bukan sekadar kalimat, tapi pelukan kasih sayang.
Seolah Allah berkata, “Kau tidak sendiri. Aku selalu di sini.”
Dunia Menyakitkan Karena Allah Ingin Kau Pulang
Kadang, rasa kecewa bukan hukuman.
Ia adalah undangan lembut tapi tegas agar kita berhenti bersandar pada dunia dan kembali bersandar kepada-Nya.
Artikel Terkait
Al-Qur’an di Tengah Kesibukan: Cara Menemukan Hening di Dunia yang Bising
Peta Jalan Menuju Bahagia: Mengapa Al-Qur’an Selalu Relevan di Tiap Zaman