Kamis, 4 Juni 2026

Ketika Dunia Mulai Terasa Berat, Ingatlah Bahwa Semuanya Sementara

- Selasa, 4 November 2025 | 12:19 WIB
Kadang, yang dibutuhkan bukan solusi, tapi kesadaran: bahwa semua ini hanya sementara. (Foto/Ilustrasi)
Kadang, yang dibutuhkan bukan solusi, tapi kesadaran: bahwa semua ini hanya sementara. (Foto/Ilustrasi)

IFA.id pernah melansir hasil riset kecil tentang tingkat stres di kalangan profesional muda. Hasilnya mengejutkan: lebih dari 70% responden mengaku merasa kehilangan arah meski hidup mereka terlihat “sukses” di mata orang lain.

Mereka sadar, di tengah pencapaian materi, ada kehampaan batin yang tak bisa diisi dengan apapun kecuali makna.

Barangkali inilah titik di mana kalimat “semuanya sementara” menemukan kekuatannya. Dunia akan terus berputar, dengan atau tanpa kita. Namun cara kita memandangnya menentukan apakah hati ikut berputar liar atau tetap tenang di tengah arus.

Baca Juga: Ekonomi Tumbuh, Iman Tersentuh: Filosofi ‘Kerja adalah Ibadah’ Menyentuh Generasi Muda

3. Menemukan Makna di Tengah Sementara

Ada satu kisah sederhana yang sering disampaikan para ustaz:
Suatu hari, seorang pemuda datang pada gurunya dan mengeluh tentang hidup yang terasa berat. Gurunya lalu memberinya segelas air dan segenggam garam.

“Masukkan garam ini ke dalam gelas dan minumlah,” kata sang guru. Pemuda itu pun meminumnya dan merasakan rasa asin yang tak enak.

Kemudian sang guru membawanya ke danau. “Sekarang, taburkan garam yang sama ke dalam danau, lalu minumlah airnya.” Pemuda itu melakukannya — dan airnya tak terasa asin.

“Rasa asin hidup itu sama,” ujar sang guru, “yang berubah hanya wadah hatimu. Jika hatimu sempit, segala ujian terasa pahit. Tapi jika hatimu luas, dunia ini tak lagi terlalu berat.”

Baca Juga: Hujan, Cinta, dan Keajaiban Waktu: Cerita Kecil Tentang Doa yang Dikabulkan

Kisah itu seolah menggambarkan bagaimana dunia yang sementara bisa terasa ringan bila hati kita diperluas dengan kesadaran spiritual.

4. Melatih Diri untuk Tidak Terikat

Salah satu tanda kebijaksanaan adalah ketika seseorang mulai belajar untuk tidak terlalu terikat pada hal-hal duniawi.

Bukan berarti tidak boleh memiliki cita-cita atau kenikmatan hidup, tapi menyadari bahwa semua itu bisa hilang kapan saja dan tetap bisa tenang bila memang harus hilang.

Dalam perspektif IFA.id, latihan spiritual paling sederhana justru dimulai dari kebiasaan kecil:
tidak panik ketika sesuatu tak sesuai rencana, tidak terlalu bangga saat sesuatu berjalan sempurna. Di situlah letak keikhlasan yang nyata.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Cara Terbaik Bersedekah untuk Anak Yatim Menurut Islam

Kamis, 27 November 2025 | 10:08 WIB

Rahasia Besar di Balik Sedekah untuk Anak Yatim

Kamis, 27 November 2025 | 10:02 WIB

Mengapa Sedekah kepada Anak Yatim Dilipatgandakan?

Kamis, 27 November 2025 | 09:51 WIB

Keajaiban Sedekah Anak Yatim dalam Islam

Kamis, 27 November 2025 | 09:45 WIB

Ujian atau Azab? Cara Islam Memandang Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:19 WIB

Sikap Terbaik Saat Menolong Korban Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 12:05 WIB

Mengapa Islam Melarang Menghina Musibah Orang Lain?

Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Doa yang Dianjurkan Ketika Melihat Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:49 WIB

Adab Muslim Saat Melihat Orang Kena Musibah

Rabu, 26 November 2025 | 11:44 WIB

Rahasia Hikmah di Balik Musibah Menurut Islam

Rabu, 26 November 2025 | 11:37 WIB

Mitos dan Fakta tentang Hijab yang Sering Disalahpahami

Selasa, 25 November 2025 | 11:25 WIB

Perjalanan Hijab dari Masa Nabi hingga Era Modern

Selasa, 25 November 2025 | 11:11 WIB

Mengapa Hijab Diwajibkan? Penjelasan Dalil dan Hikmahnya

Selasa, 25 November 2025 | 11:07 WIB

Terpopuler

X