IFA.id menemukan kisah inspiratif dari seorang santri bernama Fauzan.
Saat awal mondok, ia dikenal keras kepala dan sulit diatur.
Baca Juga: Di Balik Sunyi Perut Kosong: Keberkahan Besar dari Puasa Senin-Kamis
Berkali-kali ia ditegur karena melanggar jam tidur dan suka bercanda berlebihan saat mengaji. Tapi gurunya tak pernah memarahinya keras-keras. Hanya memberi satu nasihat:
“Ilmu tidak akan datang kepada orang yang tak menghormati waktunya.”
Kata-kata itu menempel di hatinya. Ia mulai memperbaiki diri, menepati waktu, dan menjaga larangan. Bertahun-tahun kemudian, Fauzan menjadi seorang ustaz muda yang disegani, terkenal karena kedisiplinannya.
“Kalau tidak karena larangan-larangan itu, mungkin saya masih hidup sesuka hati,” katanya.
Senyumnya sederhana, tapi matanya tenang tanda dari jiwa yang telah ditempa.
Doa Santri agar Diberi Adab dan Keteguhan
اللَّهُمَّ أَدِّبْنِي بِأَدَبِ النُّبُوَّةِ، وَزَيِّنِّي بِزِينَةِ التَّقْوَى، وَاجْعَلْنِي مِنَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ.
Allāhumma addibnī bi-adabin nubūwah, wa zayyinnī bi-zīnatit taqwā, waj‘alnī minal lażīna yastami‘ūnal qawla fayattabi‘ūna aḥsanah.
Baca Juga: Lapar yang Menyembuhkan: Rahasia Ketenangan dari Puasa Sunnah
Artinya:
Ya Allah, didiklah aku dengan adab kenabian, hiasilah aku dengan ketakwaan, dan jadikan aku termasuk orang yang mendengar nasihat lalu mengikuti yang terbaik darinya.
Doa ini sering dibaca oleh para santri setiap malam Jumat memohon agar ilmu yang mereka pelajari tak hanya menambah pengetahuan, tapi juga memperindah akhlak.
Larangan di pesantren bukanlah rantai yang membelenggu, melainkan cermin untuk mengenal diri. Ia mengajarkan bahwa kebebasan sejati bukan berarti melakukan apa pun yang diinginkan, tapi mampu menahan diri dari yang tak bermanfaat.
Dari ngaji lahirlah ilmu.
Dari adab lahirlah ketenangan.
Dan dari larangan lahirlah ketangguhan.
IFA.id melihat, pesantren bukan hanya mencetak cendekia, tapi juga membangun jiwa-jiwa yang kuat, rendah hati, dan siap berbakti
Baca Juga: Langkah Terakhir atau Awal Baru? Istikharah dalam Pandangan Islam yang Sesungguhnya
Artikel Terkait
Saat Hati Tak Bisa Memilih: Istikharah Sebagai Jalan Menemukan Ketenangan
Allah yang Menentukan, Bukan Perasaan: Meluruskan Makna Istikharah