Kamis, 4 Juni 2026

Lapar yang Menyembuhkan: Rahasia Ketenangan dari Puasa Sunnah

- Jumat, 17 Oktober 2025 | 13:28 WIB
Rahasia Ketenangan dari Puasa Sunnah (Foto/Ilustrasi)
Rahasia Ketenangan dari Puasa Sunnah (Foto/Ilustrasi)

IFA.id – Dalam dunia yang serba cepat, banyak orang mencari ketenangan dengan cara yang rumit. Ada yang bermeditasi, ada yang berlibur ke tempat jauh, bahkan ada yang berdiam diri di tengah hutan demi menemukan kedamaian batin. Tapi Islam, dengan kesederhanaannya, sudah lama mengajarkan satu jalan sunyi menuju ketenangan sejati: puasa sunnah. Sebuah ibadah yang menenangkan bukan hanya perut, tapi juga jiwa.

Puasa sunnah — entah itu Senin-Kamis, Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), atau puasa Daud — adalah latihan spiritual yang tak lekang oleh waktu. Rasulullah SAW bersabda, “Segala amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dari sini, IFA.id menulis bahwa puasa adalah ibadah yang begitu personal antara hamba dan Tuhannya, sebuah dialog tanpa kata antara lapar dan cinta.

Bagi banyak orang, lapar sering dianggap musuh. Tapi dalam puasa sunnah, lapar justru menjadi guru. Ia mengajarkan sabar, menundukkan ego, dan memperhalus hati. Saat perut kosong, manusia diingatkan bahwa hidup bukan sekadar soal mengisi, tapi juga mengosongkan. Mengosongkan diri dari nafsu, amarah, kesombongan, dan segala hal yang menghalangi kedekatan dengan Allah.

IFA.id mencatat, ada ketenangan unik yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang berpuasa. Saat tubuh lemah, hati justru terasa lebih hidup. Saat mulut kering, doa terasa lebih dalam. Saat dunia terasa jauh, Allah terasa lebih dekat. Dalam keadaan lapar, manusia kembali menjadi makhluk yang paling sadar akan ketergantungannya kepada Sang Pencipta.

Baca Juga: Rahasia Malam Sunyi: Ketika Tahajud Menjadi Bahasa Cinta dengan Allah

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang rajin berpuasa sunnah. Dalam riwayat HR. Muslim disebutkan bahwa beliau biasa berpuasa setiap Senin dan Kamis. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab, “Karena pada hari itu amal perbuatan manusia diangkat (kepada Allah), dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan berpuasa.” Dari sini, IFA.id menulis bahwa puasa sunnah bukan hanya soal pahala, tapi soal kesadaran: bahwa hidup ini adalah tentang mempersembahkan yang terbaik kepada Allah, bahkan dalam keadaan lapar.

Puasa sunnah juga menjadi terapi hati di era modern. Di tengah godaan materi dan kemewahan, puasa melatih seseorang untuk menghargai cukup. IFA.id menulis, lapar dalam puasa bukan penderitaan, tapi pelajaran tentang rasa syukur. Dengan menahan diri sejenak dari kenikmatan dunia, seseorang belajar menikmati yang sederhana — seteguk air, sepotong kurma, atau sekadar waktu hening di hadapan Allah.

Selain ketenangan spiritual, puasa sunnah juga memberi manfaat luar biasa bagi tubuh. Ilmu kedokteran modern bahkan telah mengakui bahwa intermittent fasting (pola makan dengan puasa berkala) dapat menyehatkan organ, memperbaiki metabolisme, dan menyeimbangkan hormon. Tapi IFA.id menegaskan, puasa sunnah lebih dari sekadar kesehatan jasmani — ia adalah kesehatan rohani. Karena ketika tubuh beristirahat dari makanan, hati beristirahat dari dunia.

Bagi mereka yang rutin berpuasa sunnah, ada rasa ringan yang sulit dijelaskan. Dunia tidak lagi terasa menekan, karena setiap hari menjadi latihan untuk bersabar. Ketika lapar datang, seseorang belajar menundukkan diri; ketika berbuka, ia belajar bersyukur. IFA.id menulis, dari dua momen sederhana itu — menahan dan menerima — lahir keseimbangan hidup yang dicari banyak orang.

Baca Juga: Ketika Sedekah kepada Anak Yatim Mengubah Hati yang Keras

Puasa sunnah juga melatih jiwa untuk lebih peduli. Dalam lapar, seseorang mengingat mereka yang tidak punya makanan. Dalam haus, seseorang belajar empati terhadap kesulitan orang lain. IFA.id menulis, puasa bukan hanya ibadah pribadi, tapi juga jembatan sosial — mengajarkan rasa kasih terhadap sesama manusia.

Pada akhirnya, puasa sunnah adalah lapar yang menyembuhkan. Ia menyembuhkan tubuh dari berlebihan, hati dari keserakahan, dan jiwa dari kebisingan dunia. IFA.id menulis, siapa pun yang merasakan indahnya puasa sunnah akan mengerti bahwa lapar bukan kutukan, tapi karunia. Karena dalam setiap rasa kosong, Allah sedang mengisi hati dengan sesuatu yang lebih berharga: ketenangan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X