IFA.id -- Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa bersejarah yang menandai titik balik dalam perkembangan Islam.
Peristiwa ini bukan hanya sekadar perpindahan fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual, sosial, dan politik yang mendalam.
Hijrah menjadi awal dari kebangkitan Islam sebagai peradaban yang lebih kuat dan terorganisir.
Baca Juga: Keutamaan Bersedekah di Bulan Ramadhan: Investasi Akhirat yang Berlipat Ganda
Latar Belakang Hijrah
Sebelum hijrah, umat Islam di Makkah mengalami berbagai tekanan dan penganiayaan dari kaum Quraisy.
Rasulullah SAW dan para pengikutnya sering mendapat siksaan, boikot ekonomi, serta ancaman pembunuhan.
Setelah lebih dari sepuluh tahun berdakwah di Makkah, jumlah pemeluk Islam masih sedikit, dan kondisi semakin memburuk.
Di sisi lain, Madinah, yang saat itu masih dikenal sebagai Yatsrib, merupakan tempat yang lebih kondusif bagi penyebaran Islam.
Dua suku besar di Madinah, yaitu Aus dan Khazraj, telah lama berseteru, dan mereka melihat Islam sebagai solusi untuk menyatukan mereka.
Beberapa penduduk Madinah telah lebih dahulu masuk Islam setelah mendengar dakwah Rasulullah, dan mereka pun mengundang beliau untuk datang dan memimpin kota tersebut.
Baca Juga: Cara Agar Puasa Ramadhan Tidak Sekadar Menahan Lapar dan Haus
Peristiwa Hijrah
Pada tahun 622 M, kaum Quraisy berencana untuk membunuh Rasulullah SAW guna menghentikan dakwah Islam.
Mengetahui rencana jahat tersebut, Nabi Muhammad SAW bersama sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, bersiap untuk berhijrah.
Artikel Terkait
Tips Membuat Gulai Ikan dengan Santan Kental yang Gurih dan Halal
Cara Agar Puasa Ramadhan Tidak Sekadar Menahan Lapar dan Haus
Makanan Halal yang Cocok untuk Diet Rendah Karbohidrat
Resep Tongseng Kambing Halal dengan Bumbu Khas Jawa
Keutamaan Bersedekah di Bulan Ramadhan: Investasi Akhirat yang Berlipat Ganda