IFA.id -- Muhammad Ali, yang lahir dengan nama Cassius Clay, memeluk Islam pada tahun 1964, tepat saat karier tinjunya mulai menanjak.
Keputusannya untuk mengubah agama berawal dari refleksi pribadi terhadap ketidakadilan sosial dan pemaksaan agama yang diterimanya sejak kecil.
Ali merasa bahwa Islam menawarkan kebebasan spiritual yang lebih sesuai dengan nilai-nilai keadilan yang ia perjuangkan, terutama dalam konteks ras dan diskriminasi.
Baca Juga: Jalaluddin Rumi: Penyair Sufi yang Menginspirasi Dunia
Keterlibatannya dengan Nation of Islam, melalui tokoh-tokoh seperti Malcolm X dan Elijah Muhammad, semakin memperkuat keyakinannya.
Ali tidak hanya menjadi simbol keberanian di atas ring, tetapi juga sosok yang dengan lantang menentang kebijakan diskriminatif, termasuk menolak wajib militer pada Perang Vietnam.
Sebagai seorang Muslim yang taat, ia kemudian menjalani perjalanan spiritual yang mendalam, termasuk menunaikan ibadah haji ke Mekah pada 1972, yang menandai babak baru dalam kehidupannya.
Baca Juga: Ibnu Sina: Sang Pelopor Kedokteran Muslim Dunia
Perubahan nama dari Cassius Clay menjadi Muhammad Ali menjadi simbol dari transformasi yang lebih besar—dari seorang petinju menjadi pejuang keadilan dan perdamaian.
Ajaran Islam dan pengalamannya sebagai seorang Muslim sangat memengaruhi pandangannya terhadap dunia, baik dalam politik maupun kehidupan pribadi.
Ali tetap menginspirasi dunia hingga kini dengan keberanian dan komitmennya terhadap keyakinan dan hak asasi manusia.
Artikel Terkait
Resep Ayam Taliwang, Pedas Gurih Khas Lombok yang Menggugah Selera
Resep Pasta Aglio Olio, Hidangan Sederhana dengan Rasa Lezat
Resep Fudgy Brownies, Rasa Cokelat Lezat dengan Tekstur Lembut dan Kenyal
Ibnu Sina: Sang Pelopor Kedokteran Muslim Dunia
Jalaluddin Rumi: Penyair Sufi yang Menginspirasi Dunia