Ia menekankan pentingnya saling menghormati dan toleransi antarumat beragama dalam pidato yang disampaikannya pada peluncuran Aksi Moderasi Beragama.
Ia menyatakan bahwa tanggung jawab untuk menjaga keharmonisan di tengah perbedaan yang ada ada pada generasi muda.
“Kita harus bersikap kritis dalam beragama dan menjadikan agama sebagai kompas moral manusia,” tegasnya.
Baca Juga: Kuliner Halal, Enak, dan Murah di Singapura di Bawah Rp50.000
Cinta menggunakan platformnya untuk menyampaikan pesan bahwa moderasi beragama bukanlah tentang menyamakan semua keyakinan, tetapi lebih tentang menghargai perbedaan dan menemukan kesepakatan dalam nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Menurutnya, setiap agama memiliki doktrin dan ritual yang berbeda, tetapi pada dasarnya, semua agama mengajarkan nilai-nilai yang sama tentang kemanusiaan.
Cinta Laura tidak hanya mendapat banyak dukungan atas pandangannya, tetapi ia juga mendapat kritik dari beberapa orang yang tidak setuju dengan pendekatannya terhadap agama.
Baca Juga: Makanan Halal di Jepang yang Wajib Dicoba
Kritik ini sering datang dari generasi yang lebih tua yang percaya bahwa moderasi beragama dapat mengaburkan kebenaran absolut dari ajaran agama.
Namun, Cinta tetap optimis dan percaya bahwa dialog terbuka adalah kunci untuk mencapai pemahaman yang lebih baik antarumat beragama.
Cinta berharap generasi berikutnya akan terus berjuang untuk membangun masyarakat yang harmonis dan saling menghargai dengan semangat ini.
(Dinda Putri R)
Artikel Terkait
Kewirausahaan dan Pengelolaan Bisnis dalam Islam
Pemberian Jasa dan Layanan dalam Islam
Zakat dan Sedekah dalam Ekonomi Islam
Pengelolaan Keuangan Pribadi dalam Islam
Mualaf di Usia Muda: Kisah Inspiratif Reza Rahadian dalam Memeluk Islam