IFA,id - Mustasyar PBNU, KH Said Aqiel Siradj, mengungkap tabir syair Burdah menyentuh hati. Videonya juga menyebar cepat di Instagram. Postinganya mendapat repons belasan ribu like dan ratusan komentar seperti terlihat IFA.id pada Jumat, 17 Januari 2024.
Di video itu, KH Said Aqiel Siradj menguraikan makna mendalam dari syair Burdah tersebut dan alasan mengapa ia begitu mempengaruhi perasaan pendengarnya.
Dalam sejarah Islam, syair Burdah karya Imam Al-Busiri menjadi warisan sastra tak lekang waktu. Ditulis pada abad ke-13 era Dinasti Mamluk, syair ini adalah puisi penuh cinta, rindu, dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Tak hanya menjadi karya sastra, Burdah telah menjelma menjadi untaian doa dan zikir menyentuh hati jutaan umat Muslim di seluruh dunia.
Kisah di balik lahirnya Burdah bermula dari kondisi Imam Al-Busiri sedang diuji dengan penyakit parah. Dalam rasa sakit begitu mendalam, ia melantunkan syair pujian kepada Rasulullah SAW dengan hati penuh harap. Hingga suatu malam, ia bermimpi bertemu Rasulullah SAW.
Dalam mimpi itu, Rasulullah SAW menyelimuti tubuh Al-Busiri dengan jubah (burdah) sebagai tanda penerimaan dan keberkahan. Ketika terbangun, Imam Al-Busiri menemukan dirinya telah sembuh total. Dari sinilah syair ini mendapat nama Burdah—selimut keberkahan menjadi simbol cinta Ilahi.
Syair ini terdiri dari 10 bab dengan total 160 bait, setiap baitnya sarat makna mendalam. Dimulai dengan pengakuan kelemahan manusia terhadap hawa nafsu, Burdah membawa pendengarnya dalam perjalanan spiritual menuju cinta sejati.
Di setiap bait, terdapat keindahan metafora menggambarkan kerinduan kepada Nabi, perjuangan melawan nafsu, dan kemuliaan Rasulullah sebagai pembawa risalah terakhir.
Namun, keajaiban Burdah tak hanya terletak pada kisah di baliknya, tetapi juga pada dampaknya. Syair ini sering dibacakan dalam berbagai acara keagamaan, dari maulid Nabi hingga upacara pernikahan.
Nada digunakan untuk melantunkan Burdah mampu menyentuh hati, bahkan bagi mereka mungkin tidak memahami bahasa Arab. Keindahan melodi dan irama Burdah menjadikannya sebagai salah satu karya sastra melampaui batas bahasa dan budaya.
Apa membuat Burdah begitu istimewa? Ia mengajarkan bahwa cinta kepada Rasulullah SAW bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui rasa mendalam.
Ketika kita melantunkan syair ini, kita seakan-akan memanggil Nabi dengan kerinduan membara, memohon syafaatnya di hari akhir. Setiap baitnya menjadi pengingat bahwa cinta kepada Nabi adalah salah satu jalan menuju cinta kepada Allah SWT.
Di tengah kehidupan modern sering kali penuh kesibukan dan kebisingan, Burdah hadir sebagai pelipur lara dan pengingat akan hakikat hidup sesungguhnya.
Ketika hati dirundung kesedihan, melantunkan Burdah adalah salah satu cara untuk merasakan kedamaian. Ketika kita merasa jauh dari Sang Pencipta, syair ini mengajarkan kita untuk mendekatkan diri melalui shalawat dan pujian kepada kekasih-Nya.
Artikel Terkait
Kisah Mush’ab bin Umair: Pelopor Dakwah yang Tak Kenal Lelah di Tengah Penolakan
Menggali Inspirasi dari Sosok Bilal bin Rabah: Perjuangan Seorang Muazzin dengan Keteguhan Iman di Tengah Penyiksaan
Mengenal Buya Hamka: Kisah Seorang Sastrawan yang Mengubah Wajah Islam di Indonesia
Kisah di Balik Tirai Pesantren: Perjuangan Santri dalam Menyemai Ilmu hingga Berkontribusi untuk Bangsa