IFA.id – Di masa lalu, berzakat berarti antre di masjid atau lembaga amil, mengisi formulir, lalu menyerahkan uang tunai. Kini, cukup satu sentuhan di layar ponsel — zakat tersalurkan, laporan diterima real-time, dan penerima manfaat langsung merasakan dampaknya.
Inilah wajah baru kebaikan: zakat digital.
IFA.id menulis, zakat kini tidak lagi sekadar ibadah tahunan, melainkan bagian dari ekosistem digital yang transparan, efisien, dan berkeadilan.
Dalam laporan Global Islamic Fintech Report 2025, Indonesia menempati posisi tiga besar dunia dalam pertumbuhan platform zakat digital.
Nilai transaksi zakat, infak, dan sedekah digital mencapai Rp 1,1 triliun pada 2024 — naik 68% dibanding tahun sebelumnya.
Baca Juga: Rahasia Ketahanan Dinar Dirham di Tengah Inflasi Dunia
Menurut Dr. Dwi Maulana, pakar ekonomi syariah dari UIN Jakarta, “Digitalisasi zakat bukan sekadar modernisasi sistem, tapi cara baru memastikan amanah dijalankan tanpa celah.”
Zakat bukan hanya tentang memberi, tapi tentang kepercayaan.
Selama ini, masalah klasik zakat adalah keraguan publik terhadap transparansi dan distribusi dana.
Namun kini, hadir teknologi blockchain — sistem pencatatan digital yang tidak bisa diubah atau dimanipulasi.
“Dengan blockchain, setiap rupiah zakat bisa dilacak: dari muzakki hingga mustahik,” ujar Nur Aini, Direktur Baznas Digital Center.
Sistem ini memungkinkan publik melihat arus dana secara terbuka, sementara identitas penerima tetap dilindungi secara etis.
Baca Juga: Ketika Langit Terbelah dan Lautan Meluap: Gambaran Dahsyat Hari Kiamat dalam Al-Qur’a
Contohnya, platform ZakatChain (startup yang lahir di Bandung) menggunakan smart contract untuk memastikan zakat langsung disalurkan begitu syarat terpenuhi.
Sebelum era digital, zakat sulit dimonitor secara makro. Berapa banyak yang terkumpul? Ke mana saja disalurkan? Siapa yang paling membutuhkan?
Kini, dengan data digital, semua itu bisa diukur secara real-time.
Menurut data Baznas, sekitar 70% penyaluran zakat digital kini sudah berbasis analisis kebutuhan daerah, bukan lagi pembagian merata.
Aplikasi KitaZakat misalnya, menggunakan AI untuk memetakan wilayah termiskin berdasarkan data ekonomi nasional.
“Ini bukan sekadar efisiensi, tapi keadilan berbasis data,” ujar Faisal Hadi, CTO KitaZakat.
“Dulu zakat menunggu datangnya penerima, sekarang zakat yang datang kepada mereka.”
Baca Juga: Tanda-Tanda Kiamat: Ketika Dunia Perlahan Kehilangan Nur Cahaya
Pandemi 2020-an menjadi momentum besar percepatan zakat digital.
Kini, bahkan jamaah di desa sudah akrab dengan fitur “zakat lewat QRIS” di masjid.
Aplikasi seperti GoZakat, Dompet Dhuafa Digital, dan Lazismu Online membuat zakat setara mudahnya dengan transfer antarbank.