Selain pangan, permintaan energi untuk pendingin ruangan juga meningkat, menyebabkan harga energi melambung tinggi.
Tekanan inflasi ini memperburuk situasi ekonomi global, meskipun banyak bank sentral berusaha menjaga stabilitas harga.
Di tengah semua ini, perubahan iklim dan cuaca ekstrem diprediksi akan menjadi ancaman besar bagi pertumbuhan ekonomi global.
World Economic Forum mencatat bahwa cuaca ekstrem adalah risiko ekonomi terbesar kedua pada tahun 2025.
Jika perubahan iklim tidak diatasi, kenaikan suhu bumi dapat memangkas output ekonomi global hingga 4% pada 2050, dan bahkan hingga 40% pada 2100 jika suhu global meningkat 4 derajat Celsius.
Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dampak dari gelombang panas sangat terasa. Kelangkaan air, penurunan produktivitas pertanian, dan peningkatan biaya kesehatan menjadi ancaman besar bagi perekonomian.
Pemerintah Indonesia memprediksi kerugian ekonomi akibat perubahan iklim dapat mencapai Rp544 triliun pada periode 2020-2024.
Pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi sangat krusial untuk mengurangi dampak dari gelombang panas ekstrem ini.
Pemerintah harus mengimplementasikan kebijakan mitigasi perubahan iklim yang lebih efektif, serta berinvestasi dalam ketahanan pangan dan energi.
Tantangan besar yang dihadapi negara-negara berkembang adalah bagaimana menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan perlindungan terhadap lingkungan.
Perlu adanya inovasi untuk menciptakan solusi berkelanjutan yang dapat mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam yang terbatas.
Penerapan kebijakan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim harus diprioritaskan. Sektor-sektor seperti pertanian, energi, dan transportasi perlu diperkuat untuk memastikan daya tahan ekonomi di masa depan.
Diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk menghadapi perubahan iklim dan mengurangi dampak ekonomi yang ditimbulkan.