ekonomi-bisnis

Gelombang Panas Ekstrem 2025: Dampak Terhadap Ekonomi Global dan Lonjakan Inflasi

Senin, 7 Juli 2025 | 16:02 WIB
Gelombang Panas Ekstrem 2025 (Foto/VOI)

IFA.id - Gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai belahan dunia pada tahun 2025 memberikan dampak besar terhadap perekonomian global.

Suhu yang melonjak melebihi 40 derajat Celsius di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia memicu krisis kesehatan, kebakaran lahan, dan memperlambat aktivitas ekonomi.

Laporan dari Allianz Research mengungkapkan bahwa gelombang panas diprediksi akan mengurangi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global sebesar 0,6%.

Baca Juga: BlackRock Tancap Gas Borong 3 Saham Batu Bara pada Juli 2025: Sinyal Optimisme Sektor Energi

Negara-negara seperti China, Spanyol, Italia, dan Yunani mengalami penurunan PDB yang signifikan, sementara Amerika Serikat diperkirakan akan mencatatkan penurunan sebesar 0,6%, dan Prancis sepertiga poin.

Suhu ekstrem ini juga menurunkan produktivitas tenaga kerja, terutama di sektor-sektor seperti pertanian, konstruksi, dan manufaktur.

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperkirakan bahwa jika tidak ada langkah adaptasi yang cukup, tekanan panas dapat mengurangi total jam kerja global sebesar 2,2% pada tahun 2030.

Kerugian ekonomi akibat gelombang panas diperkirakan mencapai sekitar US$2,4 triliun dalam PDB tahunan global.

Baca Juga: Prediksi Harga Perak Akan Mengalami Lonjakan Juli 2025, Robert Kiyosaki: Potensi Keuntungan Besar, Risiko Minimal

Negara-negara Eropa, seperti Jerman dan Spanyol, mengalami kerugian PDB yang bervariasi, dengan penyumbang utama kerugian ini adalah kebakaran lahan, penurunan hasil panen, dan gangguan transportasi.

Selain mempengaruhi produktivitas, gelombang panas juga mendorong inflasi global, terutama dalam harga pangan dan energi.

Produksi pangan seperti gandum, jagung, dan beras terganggu, yang mengakibatkan lonjakan harga pangan, dan pada musim panas 2022, inflasi pangan di Eropa naik antara 0,4 hingga 0,9 poin persentase.

Fenomena serupa juga terjadi pada tahun 2025, dengan inflasi pangan di beberapa negara Eropa dan Asia kembali meningkat tajam.

Baca Juga: Kebijakan Tarif Baru AS: Trump Berlakukan Tarif 10% untuk 100 Negara, Trade Deal Dikejar Sebelum 9 Juli 2025

Halaman:

Tags

Terkini

Ekonomi Syariah 5.0: Revolusi Halal di Era Digital

Kamis, 9 Oktober 2025 | 11:34 WIB