IFA.id -- Menteri Pertanian Indonesia, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa Indonesia belum dapat memenuhi permintaan Malaysia untuk mengimpor beras.
Keputusan ini diambil demi menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ketidakpastian iklim dan potensi musim kemarau yang dapat mempengaruhi produksi domestik.
Dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian dan Keterjaminan Makanan Malaysia, Datuk Seri Haji Mohamad Bin Sabu, Amran menyampaikan bahwa meskipun stok beras nasional saat ini mencapai 3,36 juta ton dan diperkirakan naik menjadi 4 juta ton pada Mei 2025, Indonesia tetap harus waspada terhadap kebutuhan dalam negeri.
Baca Juga: Di Beijing, Menlu RI Tegaskan Netralitas Indonesia dalam Perang Dagang Global
Malaysia saat ini menghadapi lonjakan kebutuhan beras, dengan produksi domestik hanya mampu memenuhi 40–50% konsumsi nasional.
Situasi ini mendorong Malaysia untuk mencari pasokan tambahan dari negara-negara tetangga, termasuk Indonesia.
Amran menekankan bahwa prioritas utama pemerintah adalah memastikan ketersediaan beras bagi masyarakat Indonesia.
"Kita harus tetap waspada. Jangan sampai kekurangan di dalam negeri hanya karena permintaan dari luar," ujarnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Sambut Wakil PM Malaysia, Kawan Lama di masa Muda
Meskipun permintaan beras ditolak, Malaysia tetap menjalin kerja sama dagang dengan Indonesia untuk komoditas lain seperti kelapa, sayuran, dan ikan.
Selain itu, Malaysia memuji kemajuan teknologi pertanian Indonesia yang mampu mendorong produktivitas padi hingga 12–13 ton per hektare di beberapa daerah.
Amran juga mengungkapkan bahwa Jepang akan mengirim delegasi ke Indonesia dalam waktu dekat, menyusul lonjakan harga beras di Negeri Sakura yang mendekati Rp100.000 per kilogram.
Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia menjadi perhatian negara-negara lain dalam upaya menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan global.