IFA.id -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa rencana peningkatan impor bahan pangan seperti gandum dan kedelai dari Amerika Serikat tidak akan mengganggu program swasembada pangan nasional.
Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi sumber impor, bukan penambahan volume yang dapat memengaruhi produksi dalam negeri.
Airlangga menjelaskan bahwa selama ini Indonesia telah mengimpor komoditas tersebut dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, dan Ukraina.
Ia menekankan bahwa pengalihan sumber impor ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar dan penguatan sektor pangan nasional.
Pemerintah juga tengah berunding dengan Pemerintah AS terkait perang tarif impor yang dilakukan AS terhadap produk Indonesia.
Dalam perundingan ini, Indonesia menawarkan peningkatan impor komoditas energi AS senilai lebih dari US$10 miliar, termasuk LPG, minyak mentah, dan bensin.
Selain itu, Indonesia juga menawarkan kerja sama di sektor investasi dan pengembangan sumber daya manusia.
Airlangga berharap hubungan dagang yang dikembangkan dapat bersifat adil dan berimbang, serta mendukung kepentingan ekonomi nasional.
Baca Juga: AEWO Mulyaharja, Surga Tersisa di Kota Bogor yang Menyatu dengan Alam dan Edukasi
Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga kedaulatan pangan dan memastikan ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat.
Peningkatan impor ini diharapkan dapat memperluas pasar bagi produk agrikultur AS, seperti gandum, kedelai, dan susu kedelai, serta meningkatkan pembelian barang-barang modal dari Amerika.
Dengan demikian, diharapkan dapat memperkuat hubungan ekonomi bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Menteri Pariwisata Tegaskan Pariwisata sebagai Pilar Ekonomi Nasional yang Tangguh