ekonomi-bisnis

Perjalanan Li Ka-shing: Dari Buruh Pabrik Menjadi Miliarder Hong Kong dan Filantropis di Indonesia

Sabtu, 22 Maret 2025 | 20:37 WIB
Li Ka-shing, Miliarder Hong Kong dan Filantropis di Indonesia. (Foto/Bloomberg)

IFA.id -- Li Ka-shing lahir pada 29 Juli 1928 di Chao'an, Chaozhou, Guangdong, China. Pada tahun 1940, keluarganya melarikan diri ke Hong Kong untuk menghindari invasi Jepang.

Setelah ayahnya meninggal karena tuberkulosis, Li yang berusia 15 tahun harus meninggalkan sekolah dan bekerja di pabrik plastik selama 16 jam sehari untuk menghidupi keluarganya.

Pada usia 22 tahun, Li mendirikan Cheung Kong Industries, sebuah perusahaan produksi plastik.

Berkat pengalaman dan koneksinya, ia berhasil memproduksi plastik berkualitas tinggi dengan harga terjangkau, menjadikan perusahaannya produsen plastik terbesar di Asia.

Baca Juga: Bupati Bogor Sampaikan LKPJ Tahun Anggaran 2024, Fokus pada Optimalisasi Pelayanan Publik

Pada tahun 1967, saat Hong Kong dilanda kerusuhan politik, Li melihat peluang dan membeli aset properti dengan harga murah.

Pada tahun 1971, ia mendirikan perusahaan properti Cheung Kong, yang berkembang pesat dan menjadi perusahaan publik pada tahun 1972. 

Tonggak penting dalam karier Li terjadi pada tahun 1979 ketika ia mengakuisisi Hutchison Whampoa dari HSBC, menjadikannya orang Tionghoa pertama yang memiliki perusahaan yang sebelumnya dikendalikan oleh Inggris di Hong Kong.

Baca Juga: Pemprov DKI Jakarta Tangani Keluhan Warga Terdampak RDF Rorotan

Hutchison Whampoa kemudian menjadi salah satu perusahaan terbesar di Hong Kong, mengendalikan 70% lalu lintas pelabuhan serta sebagian besar utilitas listrik dan telekomunikasi di wilayah tersebut. 

Li juga dikenal sebagai filantropis yang dermawan. Melalui Li Ka Shing Foundation, ia telah menyumbangkan miliaran dolar untuk berbagai tujuan amal, termasuk pendidikan, kesehatan, dan bantuan bencana.

Salah satu sumbangan besarnya adalah Rp75 miliar untuk korban gempa Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah, Indonesia.

Tags

Terkini

Ekonomi Syariah 5.0: Revolusi Halal di Era Digital

Kamis, 9 Oktober 2025 | 11:34 WIB