IFA.id -- Indonesia kembali mencatatkan surplus neraca perdagangan pada Februari 2025 sebesar USD 3,12 miliar, melanjutkan tren positif yang telah berlangsung selama 58 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Surplus perdagangan ini didorong oleh sektor nonmigas yang mencatat surplus USD 4,84 miliar, sementara sektor migas mengalami defisit USD 1,72 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan pentingnya meningkatkan ekspor untuk mempertahankan tren surplus ini.
Baca Juga: Batas Akhir Pelaporan SPT 2024 Tetap 31 Maret 2025, Wajib Pajak Diimbau Melapor Lebih Awal
Upaya seperti pengenalan produk (pitching) dan penjajakan bisnis (business matching) dengan calon pembeli luar negeri terus dilakukan untuk mendorong ekspor, khususnya produk UMKM.
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti bahwa surplus perdagangan ini mencerminkan stabilitas dan ketahanan ekonomi Indonesia.
Baca Juga: Moody's Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia, Tegaskan Stabilitas dan Prospek Ekonomi Cerah
Ia juga mencatat bahwa Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Februari 2025 mencapai 53,6, menunjukkan ekspansi sektor manufaktur yang didorong oleh lonjakan permintaan baru.
Tren surplus perdagangan yang berkelanjutan ini menunjukkan daya saing ekonomi Indonesia yang terus meningkat, sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi serta mendorong investasi dan ekspor nasional.