ekonomi-bisnis

Kisah Sukses Dua Bersaudara Pendiri Khong Guan: Dari Penjual Sabun dan Garam hingga Produsen Biskuit Terkemuka

Sabtu, 8 Maret 2025 | 17:02 WIB
Pabrik Khong Guan (Foto/dok. Khong Guan)

IFA.id -- Pada tahun 1935, dua bersaudara asal Fujian, China, Chew Choo Keng dan Chew Choo Han, merantau ke Singapura dengan harapan mencari kehidupan yang lebih baik.

Awalnya, mereka bekerja di sebuah pabrik biskuit. Namun, pecahnya Perang Dunia II memaksa mereka kehilangan pekerjaan, sehingga mereka beralih menjadi pedagang keliling yang menjual sabun dan garam untuk bertahan hidup.

Setelah perang usai, pada tahun 1947, dengan modal dan pengalaman yang terbatas, kedua saudara ini memutuskan untuk mendirikan pabrik biskuit sendiri dan menamainya Khong Guan.

Baca Juga: Jogi Hendra Atmadja: Dari Kopiko hingga Astor, Sukses Menjadi Salah Satu Orang Terkaya di Indonesia

Mereka memulai usaha dengan peralatan sederhana dan bahan baku seadanya. Berkat kerja keras dan dedikasi, produk biskuit mereka mulai dikenal dan diminati oleh masyarakat. 

Khong Guan terus berkembang pesat dan memperluas jangkauan pasarnya hingga ke Indonesia.

Di Indonesia, perusahaan ini dikenal dengan produk-produk biskuit berkualitas yang menjadi favorit banyak keluarga.

Baca Juga: Peluncuran Koperasi Desa Merah Putih pada 12 Juli 2025 untuk Perkuat Ekonomi Desa

Salah satu ciri khas yang melekat adalah kaleng merah bergambar ibu dan dua anaknya yang duduk di meja makan, yang menjadi ikon legendaris Khong Guan. 

Saat ini, Khong Guan tidak hanya dikenal di Asia Tenggara, tetapi juga merambah pasar internasional.

Perusahaan ini terus berinovasi dengan menghadirkan berbagai varian biskuit untuk memenuhi selera konsumen yang beragam.

Baca Juga: KURMA 2025 Dorong Produk UMKM sebagai Penggerak Ekonomi Syariah

Komitmen terhadap kualitas dan inovasi produk menjadi kunci keberhasilan Khong Guan dalam mempertahankan eksistensinya di industri makanan ringan.

Kisah inspiratif Chew Choo Keng dan Chew Choo Han mengajarkan bahwa dengan tekad kuat, kerja keras, dan semangat pantang menyerah, seseorang dapat mengubah keterbatasan menjadi peluang.

Halaman:

Tags

Terkini

Ekonomi Syariah 5.0: Revolusi Halal di Era Digital

Kamis, 9 Oktober 2025 | 11:34 WIB