IFA.id -- Harga emas dunia menunjukkan tren bullish, stabil di kisaran USD2.915,83 per ounce pada Kamis (6/3).
Pasar menantikan rilis data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat (AS), khususnya laporan non-farm payrolls yang diperkirakan menambah 160.000 pekerjaan pada Februari 2025.
Analis Senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyatakan bahwa pasar tengah wait and see akibat ketidakpastian ekonomi terkait kebijakan tarif AS.
Baca Juga: Presiden Prabowo Bentuk Koperasi Desa Merah Putih untuk Putus Mata Rantai Kemiskinan
Presiden AS, Donald Trump, baru-baru ini mengecualikan beberapa sektor dari kebijakan tarifnya selama satu bulan untuk Meksiko dan Kanada, menimbulkan pertanyaan mengenai keseriusan pemerintah soal tarif.
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu minggu, mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Baca Juga: Pemkot Cirebon Hadirkan Gerakan Pangan Murah Selama Ramadan untuk Stabilkan Harga
Pasar juga memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mulai memangkas suku bunga kembali pada Juni 2025, menyusul data yang menunjukkan penurunan seperti belanja konsumen, penjualan ritel, aktivitas sektor manufaktur, belanja konstruksi, dan pasar perumahan.
Data ini memperkuat perkiraan bahwa pertumbuhan ekonomi akan melambat di kuartal I-2025.
Dengan latar belakang tersebut, harga emas diperkirakan tetap bullish, dan investor terus memantau data ekonomi AS untuk mendapatkan sinyal arah kebijakan moneter selanjutnya.