IFA.id -- Bisnis fried chicken semakin menjamur, baik dalam bentuk gerai maupun gerobakan. Namun, banyak pelaku usaha yang kurang memperhatikan kualitas dan proses pengolahan ayam.
Hal ini mendorong Haji Syamsalis untuk mendirikan Sabana Fried Chicken pada 2006, dengan fokus pada kualitas dan kehalalan produk.
Syamsalis, lulusan Teknik Elektro IKIP Rawamangun (sekarang Universitas Negeri Jakarta), terinspirasi dari nilai-nilai agama yang diajarkan sejak kecil di tanah Minang.
Baca Juga: Dari Cleaning Service hingga Pengusaha Sukses: Perjalanan Nurul Atik Membangun Rocket Chicken
Ia prihatin dengan maraknya praktik penyembelihan ayam yang tidak sesuai syariat, sehingga mendirikan usaha ayam goreng yang menjamin kehalalan dan kualitasnya.
Sabana Fried Chicken mendapat respons positif dari masyarakat karena mengedepankan standar halal dan konsultasi rutin dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Dengan model bisnis booth yang terjangkau, Sabana berkembang pesat di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Mentan Amran: Harga Cabai Naik di Awal Ramadan, Beras Turun, Stok Pangan Stabil
Syamsalis menjaga sistem waralaba dengan regulasi ketat untuk mencegah persaingan tidak sehat di antara mitra.
Dengan modal Rp 16,75 juta, seseorang bisa menjadi mitra Sabana di Jabodetabek, sementara mitra di luar Jabodetabek dikenakan biaya tambahan untuk ongkos kirim.
Berkat inovasinya dalam memberdayakan UMKM, Sabana Fried Chicken meraih berbagai penghargaan, termasuk Digital Popular Brand.