Kamis, 4 Juni 2026

Kurban Digital 2025: Tren Baru Anak Muda Berbagi

- Jumat, 3 Oktober 2025 | 16:57 WIB
Tradisi unik Idul Adha 2025 di berbagai daerah Nusantara yang sarat makna kebersamaan. (Foto/Ilustrasi)
Tradisi unik Idul Adha 2025 di berbagai daerah Nusantara yang sarat makna kebersamaan. (Foto/Ilustrasi)

IFA.id – Idul Adha 2025 menghadirkan tren baru di kalangan anak muda Indonesia: kurban digital. Jika sebelumnya ibadah kurban identik dengan pembelian hewan di pasar atau peternak, kini banyak generasi muda yang memilih berkurban lewat aplikasi dan platform daring. Fenomena ini menandai pergeseran budaya berkurban, sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi mampu mendukung tradisi keagamaan.

Kurban digital memungkinkan seseorang membeli hewan kurban hanya dengan beberapa klik di smartphone. Dari sapi, kambing, hingga domba, semua tersedia dengan pilihan harga dan lokasi distribusi yang jelas. Bahkan, ada platform yang menyalurkan hewan kurban langsung ke pelosok negeri atau wilayah yang rawan kekurangan.

Menurut data Asosiasi Kurban Online Indonesia (AKOI), tahun 2025 transaksi kurban digital meningkat hingga 40% dibandingkan tahun lalu. Lonjakan ini didorong oleh maraknya aplikasi syariah, dompet digital, dan marketplace yang menyediakan layanan khusus kurban.

Generasi muda mengaku memilih kurban digital karena alasan praktis, transparan, dan mudah diakses. Bagi mereka yang tinggal di kota besar dengan kesibukan padat, sistem ini sangat membantu.

Baca Juga: Tradisi Unik Idul Adha di Berbagai Daerah Indonesia

Seorang karyawan startup di Jakarta, Dina (27), menuturkan kepada IFA.id, "Lewat aplikasi, saya bisa pilih hewan kurban sesuai kemampuan. Prosesnya cepat, dan ada laporan foto serta video pemotongan. Jadi tetap merasa terlibat meski tidak hadir langsung."

Selain itu, kurban digital juga dinilai lebih ramah lingkungan karena mengurangi mobilisasi hewan jarak jauh. Daging kurban didistribusikan lebih merata, terutama ke daerah-daerah terpencil.

Banyak platform digital kini bekerja sama dengan lembaga zakat, masjid besar, hingga pesantren untuk memastikan penyaluran kurban sesuai syariat. Laporan detail mengenai proses penyembelihan, jumlah penerima manfaat, hingga dokumentasi distribusi menjadi nilai tambah yang meningkatkan kepercayaan jamaah.

Di sisi lain, kehadiran kurban digital juga memunculkan inovasi baru berupa fitur patungan online. Beberapa aplikasi menyediakan opsi di mana tujuh orang bisa bersama-sama membeli seekor sapi. Fitur ini langsung disambut positif oleh komunitas mahasiswa dan pekerja muda.

Baca Juga: Doa Setelah Sholat Agar Hidup Bersih dari Dosa

Meski berbasis digital, sistem ini tetap melibatkan peternak lokal. Hewan kurban yang dijual melalui platform sebagian besar berasal dari peternak kecil di desa. Dengan demikian, kurban digital juga membuka pasar yang lebih luas bagi mereka.

Seorang peternak kambing di Blitar, Pak Joko, mengaku pendapatannya meningkat sejak bergabung dengan platform digital. "Dulu jualan hanya di pasar, sekarang bisa laku sampai ke luar Jawa. Semua lewat aplikasi," ujarnya kepada IFA.id.

Kehadiran kurban digital sempat menimbulkan perdebatan. Namun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa kurban digital sah selama memenuhi syarat syariat, mulai dari jenis hewan hingga tata cara penyembelihan.

Ustazah Najwa, tokoh pengajian di Bandung, mengatakan, "Teknologi hanyalah sarana. Yang penting niat ikhlas dan syarat kurban terpenuhi. Justru dengan cara ini, manfaat kurban bisa menjangkau lebih luas."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ekonomi Syariah 5.0: Revolusi Halal di Era Digital

Kamis, 9 Oktober 2025 | 11:34 WIB

Terpopuler

X