IFA.id -- Pemerintah Indonesia memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan LG Energy Solution dalam proyek baterai kendaraan listrik senilai USD 9,8 miliar.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan bahwa keputusan ini diambil karena proses negosiasi yang berlarut-larut, bukan karena LG menarik diri.
Surat resmi pemutusan kerja sama dikirimkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kepada CEO LG Chem dan LG Energy Solution pada 31 Januari 2025.
Meskipun terjadi perubahan mitra, proyek pengembangan ekosistem baterai tetap berjalan, mencakup seluruh rantai pasok dari tambang nikel hingga daur ulang.
Baca Juga: OJK Tegaskan Stabilitas Sektor Keuangan Terjaga, Kredit Tumbuh 9,16%
Perusahaan asal Tiongkok, Zhejiang Huayou Cobalt, yang sebelumnya telah menunjukkan minat sejak 2024, akan menggantikan posisi LG dalam konsorsium.
Huayou akan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan milik negara Indonesia untuk melanjutkan proyek ini.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa perubahan investor adalah hal yang biasa dalam proyek berskala besar.
Ia memastikan bahwa rencana inti proyek tetap tidak berubah dan pemerintah berkomitmen untuk memastikan transisi berjalan lancar.
Baca Juga: Sri Mulyani Optimistis Ekonomi RI Tumbuh 5% di 2025, Meski IMF Prediksi 4,7%
LG Energy Solution sebelumnya mengumumkan penarikan diri dari proyek ini, dengan alasan kondisi pasar dan lingkungan investasi.
Namun, perusahaan tersebut tetap berkomitmen untuk menjalin kerja sama dengan pemerintah Indonesia melalui usaha patungan dengan Hyundai Motor Group, HLI Green Power.
Dengan pergantian mitra ini, pemerintah berharap proyek strategis ini dapat terus berjalan, menciptakan lapangan kerja, mendorong ekspor, dan memperkuat industri dalam negeri.
Artikel Terkait
Program MBG Dorong Perputaran Uang di Desa hingga Rp8 Miliar per Tahun
James Riady Minta Waktu Tambahan untuk Selesaikan Polemik Meikarta
Laba Tesla Anjlok 71% pada Kuartal I 2025, Elon Musk Fokus Kembali ke Perusahaan
Sri Mulyani Optimistis Ekonomi RI Tumbuh 5% di 2025, Meski IMF Prediksi 4,7%
OJK Tegaskan Stabilitas Sektor Keuangan Terjaga, Kredit Tumbuh 9,16%