IFA.id -- Pada Senin, 10 Maret 2025, PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (IPO).
Perusahaan yang bergerak di bidang perawatan, perbaikan, dan perdagangan suku cadang kendaraan ini menawarkan 450 juta saham baru atau setara dengan 21,68% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO, dengan harga penawaran Rp118 per saham, sehingga berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp53,1 miliar.
Baca Juga: Harga Minyak Global Bangkit Didukung Ekspektasi Produksi dan Sanksi AS terhadap Rusia
Pada awal perdagangan, saham KAQI sempat mencapai level tertinggi di Rp157 per saham. Namun, hingga penutupan sesi, saham mengalami penurunan tajam sebesar 10,17% atau 12 poin, ditutup pada level Rp106 per saham.
Direktur Utama KAQI, Imam Sujono, menyatakan bahwa tingginya minat investor selama masa penawaran umum pada 4–6 Maret 2025 mencerminkan kepercayaan pasar terhadap prospek bisnis perusahaan.
Ia menambahkan bahwa hal ini semakin memperkuat komitmen perusahaan dalam menjalankan misinya untuk memberikan layanan terbaik dan menciptakan nilai berkelanjutan.
Baca Juga: Adira Finance Hadirkan SPKLU di Alam Sutera untuk Dukung Mobilitas Ramah Lingkungan
Dana hasil IPO direncanakan untuk memperkuat kapasitas pendanaan dan memperbaiki struktur keuangan perusahaan.
Sebanyak 69,65% akan dialokasikan untuk belanja modal guna mendukung pengembangan usaha, 13,19% untuk kebutuhan operasional termasuk pembelian suku cadang dan pengembangan aplikasi, serta sisanya akan disalurkan sebagai pinjaman kepada beberapa anak usaha, seperti PT Joen Lie Indonesia dan PT Liantra Wil Indonesia.
Artikel Terkait
Kapolres Grobogan Minta Maaf atas Tuduhan dan Interogasi Berlebihan terhadap Pencari Bekicot
BPKH Dorong Penguatan Regulasi untuk Perkuat Ekonomi Syariah dan Pengelolaan Dana Haji
Danareksa Targetkan Laba Bersih Rp1,1 Triliun pada 2025 melalui Ekspansi dan Sinergi
Adira Finance Hadirkan SPKLU di Alam Sutera untuk Dukung Mobilitas Ramah Lingkungan
Harga Minyak Global Bangkit Didukung Ekspektasi Produksi dan Sanksi AS terhadap Rusia