IFA.id -- Pada tahun 1999, konflik sektarian di Kepulauan Maluku memaksa Barend Uspitany dan sekitar 205 keluarga lainnya meninggalkan Pulau Hatta, Banda Neira.
Mereka mengungsi ke Desa Suli di Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, yang kemudian dikenal sebagai Suli Banda karena dihuni oleh para pengungsi dari Banda Neira.
Setibanya di sana, Barend dan sekitar 1.000 pengungsi lainnya membangun gereja dan rumah sebagai tempat tinggal baru mereka.
Untuk mencari nafkah di tempat baru yang jauh dari laut, Barend memutuskan memanfaatkan pohon kayu putih yang tumbuh liar di sekitar pemukiman mereka.
Baca Juga: Barend Uspitany: Dari Pengungsi Menjadi Pengusaha Sukses Minyak Kayu Putih di Maluku
Ia mendirikan usaha pengolahan minyak kayu putih bernama Minyak Kayu Putih Cap Eriwakang, terinspirasi dari Gunung Eriwakang di Suli.
Menyadari pentingnya kerja sama, Barend mengajak tetangganya membentuk kelompok kecil dan memberikan pelatihan pengolahan minyak kayu putih, meskipun mereka sebelumnya tidak memiliki pengalaman dalam bidang ini.
Untuk menarik pemasok daun kayu putih, Barend menawarkan harga yang lebih tinggi, yaitu Rp 150 per kilogram, dibandingkan harga pasar saat itu yang hanya Rp 25 per kilogram.
Strategi ini berhasil meningkatkan pasokan daun kayu putih untuk usahanya.
Baca Juga: Perjalanan Michio Suzuki: Dari Mesin Tenun hingga Industri Otomotif Global
Kini, harga daun kayu putih telah meningkat menjadi Rp 1.000 per kilogram.
Barend percaya bahwa keuntungan tidak hanya diukur dari sisi finansial, tetapi juga dari kemampuan menolong orang lain.
Dalam proses produksi, Barend menggunakan ketel tradisional untuk menyuling daun kayu putih menjadi minyak.
Baca Juga: Rupiah Menguat Signifikan Sejak Awal 2025, BI Ungkap Faktor Pendorong
Artikel Terkait
Pemkot Cirebon Hadirkan Gerakan Pangan Murah Selama Ramadan untuk Stabilkan Harga
Presiden Prabowo Bentuk Koperasi Desa Merah Putih untuk Putus Mata Rantai Kemiskinan
Harga Emas Tetap Bullish, Pasar Nantikan Data Ekonomi Terbaru AS
Rupiah Menguat Signifikan Sejak Awal 2025, BI Ungkap Faktor Pendorong
Perjalanan Michio Suzuki: Dari Mesin Tenun hingga Industri Otomotif Global