IFA.id -- Sepuluh tahun lalu, Rowland Alfales, seorang mahasiswa di Bandung, mengalami insiden kehilangan sepatu di kosannya saat hendak berangkat kuliah.
Keterbatasan dana membuatnya kesulitan mencari pengganti yang terjangkau. Berbekal modal sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta dari kantong pribadi, Fales memutuskan untuk menciptakan merek sepatu sendiri.
Perjalanan ini tidaklah mudah, dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi.
Baca Juga: Geoff Max: Sepatu Lokal yang Lahir dari Keprihatinan dan Sukses Menembus Pasar Global
Pada tahun 2016, Pijak Bumi resmi didirikan dengan visi selaras dengan namanya: menciptakan produk yang ramah lingkungan.
Merek ini memanfaatkan material dari tumbuhan dan bahan daur ulang dalam produksi sepatunya.
Langkah ini tidak hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Baca Juga: Ventela: Sneaker Lokal Ternama Asal Bandung yang Populer
Selain itu, Pijak Bumi memiliki rencana untuk mengumpulkan dan mendonasikan sepatu yang tidak lagi digunakan kepada mereka yang membutuhkan.
Inisiatif ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam mendukung keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat.
Dari sebuah insiden kehilangan sepatu, Pijak Bumi tumbuh menjadi pelopor dalam industri sepatu ramah lingkungan di Indonesia, membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan seiring dengan inovasi dan keberhasilan bisnis.
Artikel Terkait
Perjalanan Ny. Rakhmat Sulistio: Dari Jamu Rumahan hingga Lahirnya Sido Muncul
Perjalanan Behaestex: Dari Usaha Tenun Kecil di Gresik Menjadi Pemimpin Pasar Sarung
Piero: Merek Sepatu Lokal dengan Nama Bernuansa Italia
Ventela: Sneaker Lokal Ternama Asal Bandung yang Populer
Geoff Max: Sepatu Lokal yang Lahir dari Keprihatinan dan Sukses Menembus Pasar Global