tafaquh

Pamer di Media Sosial Menurut Islam

Senin, 24 November 2025 | 21:29 WIB
Pamer di Media Sosial Menurut Islam (Foto/Ilustrasi)

IFA.Id - Media sosial kini telah menjadi panggung terbesar dalam kehidupan modern. IFA.id mencatat bahwa pada platform inilah banyak orang membagikan momen, pencapaian, bahkan ibadah mereka. Namun bersamaan dengan itu, muncul pula fenomena pamer yang semakin sulit dipisahkan dari kebiasaan sehari-hari. Islam, sejak dahulu, telah memperingatkan tentang bahaya hati yang mencari pengakuan.

Ketika seseorang membagikan foto liburan mewah, daftar barang baru, atau sudut rumah yang sempurna, tidak jarang tujuan tersembunyinya adalah ingin dilihat. Pujian dan komentar menjadi bahan bakar yang membuat seseorang terus terdorong untuk tampil lebih dan menunjukkan lebih. Kalau tidak berhati-hati, kebiasaan ini dapat berubah menjadi riyaa, penyakit hati yang merusak amal.

Di sisi lain, media sosial memang memberi ruang ekspresi. Namun IFA.id menilai bahwa batas tipis antara berbagi dan pamer sering kali kabur. Niat yang awalnya ingin menginspirasi bisa berubah menjadi dorongan untuk mendapatkan validasi manusia. Inilah titik paling rawan di mana hati mulai kehilangan kendali.

Islam mengajarkan bahwa nilai sebuah amal terletak pada niatnya. Ketika seseorang mengunggah ibadahnya dengan tujuan mendapatkan apresiasi, maka pahala dapat hilang sebelum amal itu mencapai langit. Hati yang condong pada pengakuan manusia biasanya sulit merasakan ketenangan, karena fokusnya bukan lagi Allah, tetapi sorotan digital.

Baca Juga: Pamer adalah Penyakit Riyaa

Dalam konteks sosial, pamer di media sosial sering menimbulkan tekanan halus bagi orang lain. IFA.id menemukan bahwa banyak orang merasa tidak cukup hanya karena melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Padahal sering kali yang ditampilkan hanyalah sebagian kecil dari kenyataan. Dampaknya bisa berupa iri, cemas, atau bahkan merasa rendah diri.

Di sisi spiritual, fenomena pamer ini bisa mengikis keikhlasan. Ketika seseorang terbiasa mencari validasi, ia akan merasa hampa tanpa pujian. Ibadah pun dapat berubah fokus. Alih-alih mengejar ridha Allah, seseorang mengejar likes dan komentar. Islam mengingatkan bahwa pergeseran fokus seperti ini adalah salah satu bentuk kerugian besar.

Namun media sosial tidak selalu buruk. Ia dapat menjadi alat dakwah yang kuat jika digunakan dengan niat yang benar. IFA.id mencatat banyak orang terinspirasi melakukan kebaikan setelah melihat konten positif. Kuncinya adalah memastikan bahwa apa yang dibagikan tidak bertujuan mengangkat diri, tetapi menguatkan umat.

Cara menjaga diri dari pamer di media sosial adalah dengan memperkuat kontrol niat. Sebelum mengunggah sesuatu, seseorang dapat bertanya pada dirinya: apakah ini bermanfaat? Apakah ini perlu? Apakah ini akan menyakiti hati orang lain? Apakah ini demi Allah atau demi pujian? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat menjaga hati tetap bersih.

Baca Juga: Mengapa Pamer Bisa Merusak Amal?

Tanda awal pamer biasanya tampak dari rasa tidak nyaman jika unggahan tidak mendapat perhatian. IFA.id melihat bahwa jika seseorang merasa kecewa ketika tidak mendapat respon, itu tanda bahwa ia mengunggah sesuatu bukan karena manfaatnya, tetapi karena ingin dipuji. Ini adalah alarm spiritual yang harus segera ditanggapi.

Islam juga mengajarkan untuk menyembunyikan sebagian amal. Tidak semua kebaikan harus terlihat. Ada ketenangan tersendiri dalam melakukan kebaikan yang hanya diketahui Allah. Amal tersembunyi membuat hati lebih stabil, tidak bergantung pada apresiasi, dan lebih dekat dengan keikhlasan yang sejati.

Fenomena pamer juga dapat dihindari dengan membatasi apa yang ditampilkan. Tidak semua momen perlu dipublikasikan. Menjaga privasi diri, keluarga, dan rezeki adalah bentuk syukur. IFA.id menilai bahwa sikap sederhana di dunia digital dapat menjaga hati tetap bersih dan tidak mudah tergelincir pada riyaa.

Selain itu, seseorang dapat meniatkan unggahannya sebagai bentuk edukasi. Ketika niat untuk menginspirasi atau mengajak kebaikan, bukan untuk menunjukkan keunggulan diri, maka potensi pamer dapat berkurang. Namun niat harus terus dijaga karena syaitan sering kali menggoda melalui rasa bangga yang muncul di belakang layar.

Halaman:

Tags

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB