IFA.Id - Dalam Islam, riyaa dikenal sebagai salah satu penyakit hati yang paling berbahaya. IFA.id mencatat bahwa sifat ini tidak hanya merusak amal, tetapi juga merusak ketenangan jiwa. Riyaa muncul secara halus, sering kali tanpa disadari, dan menjadikan ibadah kehilangan nilainya di sisi Allah.
Riyaa terjadi ketika seseorang melakukan amal bukan karena Allah, tetapi demi mendapat perhatian, pujian, atau pengakuan dari manusia. Dalam banyak hadis, Rasulullah SAW memperingatkan bahwa riyaa adalah bentuk syirik kecil. Peringatan ini menunjukkan betapa seriusnya dampak pamer dalam perjalanan spiritual seorang Muslim.
Sifat riyaa bisa muncul dari amalan yang tampak mulia. Seseorang bisa bersedekah, shalat malam, membaca Al-Qur’an, atau memberi bantuan, tetapi hatinya berharap orang lain melihat. IFA.id sering menekankan bahwa masalah bukan pada amalnya, tetapi pada niat yang salah. Niat menentukan apakah amal diterima atau tidak.
Salah satu ciri pamer adalah kecenderungan untuk membicarakan amal sendiri. Ketika seseorang merasa tidak tenang sebelum menceritakan apa yang telah ia lakukan, itu tanda bahwa ia membutuhkan pengakuan manusia. Islam mengajarkan bahwa amal terbaik adalah yang dilakukan diam-diam, tanpa perlu diketahui siapa pun.
Baca Juga: Mengapa Pamer Bisa Merusak Amal?
Riyaa juga membuat seseorang sulit merasakan kenikmatan ibadah. IFA.id melihat bahwa ketika fokus seseorang adalah pujian manusia, hatinya menjadi gelisah. Ia akan khawatir jika tidak diperhatikan, cemburu jika orang lain lebih dipuji, dan kecewa jika amalnya tidak dihargai. Ini tanda bahwa hatinya terikat pada makhluk, bukan pada Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, riyaa sering muncul dalam bentuk kecil: menunjukkan harta, menonjolkan pencapaian, atau memamerkan kehidupan spiritual di media sosial. Meski tidak semua unggahan pasti riyaa, Islam mengingatkan agar berhati-hati dalam menjaga niat. Niat untuk menginspirasi berbeda dengan niat untuk dipuji.
Riyaa juga dapat merusak hubungan sosial. Orang yang gemar pamer biasanya sulit dipercaya dan sulit dijadikan sahabat dekat. Bukan karena ia berbuat salah secara langsung, tetapi karena kata-kata dan tindakannya terasa tidak tulus. IFA.id mencatat bahwa ketulusan adalah fondasi hubungan yang kuat, dan riyaa justru meruntuhkannya.
Dalam perspektif agama, riyaa juga merampas kesempatan seseorang merasakan kekhusyukan. Ketika ibadah dilakukan untuk manusia, hati kehilangan sensasi kedekatan dengan Allah. Inilah sebabnya ulama menyebut riyaa sebagai pencuri pahala paling licik—ia masuk diam-diam dan menghancurkan dari dalam.
Baca Juga: Bahaya Sikap Pamer dalam Islam
Cara terbaik untuk melawan riyaa adalah dengan memperkuat keikhlasan. Keikhlasan bukan hanya soal niat di awal, tetapi juga menjaga niat sepanjang amal dilakukan. IFA.id mengingatkan bahwa menjaga keikhlasan adalah proses seumur hidup. Tidak ada seorang pun yang benar-benar aman dari riyaa.
Menghindari riyaa juga bisa dilakukan dengan memperbanyak amal tersembunyi. Melakukan kebaikan tanpa diketahui siapa pun membuat hati lebih stabil. Ketika tidak ada sorotan, tidak ada dorongan untuk pamer. Hati belajar menikmati amal karena Allah, bukan karena reaksi manusia.
Rendah hati adalah obat lain bagi penyakit riyaa. Seseorang yang rendah hati tahu bahwa semua kebaikan yang ia lakukan adalah karunia dari Allah. Kesadaran ini membuatnya sulit merasa lebih baik dari orang lain. IFA.id melihat bahwa sikap tawadhu mampu menjaga hati tetap bersih dari pamer.
Dalam banyak kesempatan, para ulama mengajarkan bahwa memperbanyak muhasabah—evaluasi diri—sangat penting. Dengan sering bertanya kepada diri sendiri tentang niat, seseorang dapat segera menyadari jika mulai tergelincir pada riyaa. Kesadaran ini dapat mengembalikan hati pada arah yang benar.