Memberi nama baik.
Nama adalah doa. Pilih nama yang mengandung makna positif, bukan sekadar tren.
Misalnya, Muhammad, Aisyah, Zain, Maryam, dan sebagainya.
Membagikan daging aqiqah.
Daging boleh dimasak atau mentah, namun dianjurkan dimasak matang untuk memudahkan penerima.
Nabi ﷺ menganjurkan agar daging dibagikan kepada tetangga dan fakir miskin.
Baca Juga: Bebaskan Hutang, Bebaskan Jiwa: Spirit Kebaikan di Tengah Krisis Ekonomi
IFA.id menyarankan agar aqiqah tidak dijadikan ajang pamer atau pesta berlebihan. Nilai utama aqiqah ada pada keikhlasan dan berbagi, bukan kemewahan.
Aqiqah di Era Modern
Kini banyak keluarga memilih jasa penyedia aqiqah yang menawarkan paket lengkap: penyembelihan, masakan, hingga distribusi.
Apakah ini sah menurut Islam?
Para ulama kontemporer sepakat bahwa boleh menggunakan jasa penyedia aqiqah, selama memenuhi tiga syarat:
-
Penyembelihan dilakukan oleh Muslim yang paham tata cara syar’i.
-
Hewan sesuai kriteria (cukup umur, sehat, dan tidak cacat).
-
Tidak ada unsur riya atau pemborosan.
Dengan demikian, jasa aqiqah justru bisa menjadi solusi bagi keluarga urban yang ingin tetap menjaga sunnah tanpa kehilangan makna ibadahnya.
Baca Juga: Hutang dalam Keluarga: Syariat dan Realita
Makna Spiritualitas Aqiqah
Di balik setiap tetesan darah hewan aqiqah, tersimpan simbol syukur dan tanggung jawab.
Aqiqah bukan sekadar ritual, tapi juga pengingat bahwa setiap anak adalah amanah yang harus dijaga lahir batin.
IFA.id mencatat, di era modern, aqiqah bisa menjadi sarana edukasi keluarga — mengajarkan anak tentang sedekah, kepedulian, dan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta sejak dini.