Ilmu yang sejatinya ibadah bisa kehilangan nilai ketika diserap tanpa bimbingan, tanpa guru, atau tanpa rasa hormat pada sumbernya. Banyak santri muda lebih sibuk mencari “ustaz viral” ketimbang meneliti sanad keilmuannya.
Padahal dalam Islam, ilmu yang membawa berkah selalu berawal dari adab terhadap guru dan proses belajar yang sabar.
Belajar Cepat Bukan Berarti Belajar Benar
Zaman digital sering mengagungkan kecepatanbelajar instan, video pendek, ringkasan materi, bahkan “hafalan 1 menit”. Namun, menuntut ilmu sejatinya bukan sekadar tentang cepat paham, tapi juga tentang bagaimana ilmu itu menumbuhkan akhlak.
Baca Juga: Mengapa Menuntut Ilmu Disebut Ibadah? Ini Penjelasan Ulama
Seorang santri di Jawa Tengah, Ahmad Rofiq, bercerita kepada IFA.id bahwa ia sempat merasa “kosong” meski sudah mengikuti puluhan kelas daring.
“Saya paham ilmunya, tapi rasanya tidak menyentuh hati. Setelah saya sowan ke kiai dan ngaji langsung, barulah terasa bedanya. Ada suasana yang tidak bisa diganti layar,” katanya.
Kisah Ahmad mencerminkan banyak pengalaman serupa. Bahwa teknologi boleh memudahkan, tetapi pertemuan batin antara guru dan murid tetap sumber keberkahan.
Kembali ke Niat: Menuntut Ilmu Sebagai Ibadah
Dalam Islam, niat adalah pondasi setiap amal. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca Juga: Panggilan Langit di Tengah Dunia yang Sibuk: Makna Mendalam Shalat Jumat
Artinya, belajar lewat YouTube, membaca artikel digital, atau mengikuti kuliah daring bisa tetap bernilai ibadah, asalkan niatnya untuk mendekatkan diri pada Allah, bukan sekadar mencari sensasi atau gelar.
IFA.id menyoroti tren positif: banyak santri digital kini memanfaatkan platform seperti Qur’an Digital, Kitab Kuning Online, dan Podcast Dakwah untuk memperluas ilmu sekaligus menyebarkannya kembali dengan adab. Inilah wujud nyata bahwa ilmu di era digital tetap bisa jadi ladang pahala.
Kiai Dunia Maya: Antara Hikmah dan Tantangan
Kemunculan ustaz dan kiai di media sosial membawa dua sisi mata uang.
Di satu sisi, mereka memperluas jangkauan dakwah; di sisi lain, muncul risiko banalitas: ilmu disajikan seperti konten hiburan.