tafaquh

Mengapa Pesantren Sering Disalahpahami di Media?

Sabtu, 18 Oktober 2025 | 15:10 WIB
Ketika pesantren disalahpahami, santri tetap menjawab dengan akhlak dan ilmu. Di balik berita yang bias, ada cahaya ketulusan yang terus menyala. (Foto/Ilustrasi)

 

IFA.id - Pernah suatu malam, tayangan televisi menampilkan suasana pesantren lengkap dengan santri lucu, guru galak, dan adegan kocak di asrama.

Orang-orang tertawa. Namun di balik tawa itu, ada yang teriris pelan: nilai-nilai pesantren yang luhur mulai tereduksi menjadi hiburan semata.

IFA.id mencatat, dalam dua dekade terakhir, banyak media nasional menyorot dunia pesantren. Tapi sering kali bukan sebagai lembaga ilmu dan adab, melainkan sebagai eksotika budaya tempat seragam putih, tidur di lantai, dan kisah “santri ajaib”.

Pesantren tampil di layar kaca, tapi kehilangan jiwanya.

Trans7, salah satu stasiun televisi dengan beragam tayangan populer, beberapa kali menampilkan kehidupan pesantren. Ada yang dikemas dokumenter, ada yang komedi, ada pula yang bernuansa misteri.

Baca Juga: Budaya Pesantren Disalahpahami: Di Mana Peran Media Islam?

Namun yang menarik: publik mengenal pesantren bukan dari kitab kuning atau halaqah ilmu, tapi dari kamera televisi yang memilih angle paling “dramatis”.

“Pesantren sering kali direduksi menjadi simbol lucu dan mistis,” kata Dr. Nurul Hidayah, peneliti media Islam, kepada IFA.id. “Padahal, pesantren adalah ruang ilmu, adab, dan perjuangan spiritual. Tapi media memilih sisi yang paling mudah dijual.”

Media bekerja dengan logika rating, bukan nilai. Itulah mengapa pesantren yang sebenarnya tempat mendidik manusia malah dijadikan latar hiburan. Kiai digambarkan keras, santri polos dan lucu, dan suasana pesantren dianggap “unik” karena sederhana.

Padahal, pesantren adalah universitas kehidupan. Di sana, santri belajar tentang kesabaran, keikhlasan, kemandirian, dan hubungan vertikal dengan Allah SWT. Semua itu jarang terekam kamera, karena tak bisa “ditangkap” dalam satu shot video.

Baca Juga: Trans7, Santri, dan Kamera: Antara Hiburan dan Kesalahpahaman Publik

IFA.id menilai, krisis ini bukan sekadar masalah liputan media, tapi juga krisis pemahaman budaya. Ketika media hanya melihat pesantren dari kulitnya, publik pun kehilangan kesempatan mengenal kedalaman maknanya.

Jawabannya sederhana tapi dalam: pesantren hidup dengan nilai, media hidup dengan visual.

Televisi dan media digital membutuhkan gambar yang kuat, cepat, dan menarik. Sedangkan pesantren mengajarkan keheningan, kesabaran, dan adab yang tak tampak secara instan.

Halaman:

Tags

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB