Ketika dua dunia ini bertemu, yang satu harus menyesuaikan diri dan biasanya yang kalah adalah nilai spiritual.
Kiai tidak akan mengulang petuahnya hanya untuk kebutuhan “take kedua”. Santri tak akan pura-pura menangis agar tampak dramatis. Dunia pesantren berjalan dengan kesederhanaan dan keikhlasan dua hal yang sulit dijual di pasar konten modern.
Baca Juga: Ketika Pesantren Jadi Konten: Trans7 dan Krisis Representasi Budaya Islam
Fenomena viral di era digital membuat pesantren semakin sering jadi bahan konten. Ada vlog “sehari jadi santri”, ada serial “cerita lucu di pondok”, ada pula liputan “horor di asrama lama”.
Namun semakin viral, semakin jauh esensinya.
“Orang mengenal pesantren dari video dua menit, tapi tak tahu apa makna ngaji bandongan atau sorogan,” ujar Ustaz Faqih, pengasuh muda pesantren di Cirebon.
“Padahal itu inti pendidikan kita belajar dengan hati, bukan hanya akal.”
Masalah sesungguhnya adalah rendahnya literasi spiritual di kalangan jurnalis dan kreator konten.
Banyak yang ingin meliput pesantren, tapi tak memahami etika dan tata cara dunia santri.
Mereka datang dengan kamera, bukan dengan adab.
Padahal, dalam tradisi pesantren, adab lebih utama dari ilmu.
Seseorang yang ingin menulis tentang pesantren harus terlebih dahulu memahami jiwa dan atmosfernya. Tanpa itu, hasil liputannya bisa bias dan menyesatkan.
Baca Juga: Senin-Kamis, Puasa Nabi: Amalan Ringan, Pahala Tak Terbatas
IFA.id menemukan pola umum di banyak tayangan media: pesantren sering digambarkan dengan tiga wajah religius, lucu, atau mistis. Jarang sekali pesantren digambarkan sebagai ruang intelektual yang berperan membentuk peradaban.
Padahal, sejarah membuktikan, pesantren melahirkan pemikir besar seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Wahid Hasyim, dan Gus Dur tokoh-tokoh yang pemikirannya membentuk arah bangsa.
Sayangnya, tayangan media lebih suka menyorot “santri tidur di lantai” daripada “santri menulis tafsir”. Lebih suka menampilkan “pondok tua berhantu” daripada “halaqah ilmu tafsir di serambi”.
Mungkin karena yang pertama mengundang klik, sedangkan yang kedua mengundang kesadaran.
Namun IFA.id tidak ingin berhenti pada kritik. Media sebenarnya bisa menjadi sahabat pesantren, bukan lawannya. Banyak jurnalis muslim dan produser muda yang kini mulai sadar, bahwa tugas media bukan hanya menyiarkan, tapi juga mendidik.
Baca Juga: Puasa Sunnah: Latihan Rahasia untuk Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri
Beberapa tayangan dokumenter baru mulai mengangkat wajah pesantren dengan lebih adil: menyorot perjuangan santri menulis kitab, kisah guru ngaji di pelosok, dan kehidupan sederhana di pondok yang penuh ketulusan.
Langkah kecil, tapi bermakna.
Media bisa memuliakan pesantren bila ia mau menundukkan kameranya di hadapan nilai.
Sebab dalam tradisi Islam, ilmu tak akan masuk ke hati yang sombong, dan kebenaran tak akan muncul dari lensa yang hanya mencari sensasi.
Artikel Terkait
Dari Ngaji ke Adab: Bagaimana Larangan di Pesantren Mendidik Jiwa Tangguh
Misteri Larangan Tidur Pagi di Pesantren: Antara Disiplin dan Barokah
Hening yang Menyapa Langit: Saat Puasa Sunnah Menjadi Doa yang Tak Terucap