Doa untuk Jurnalis dan Santri di Jalan Dakwah
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnā ittibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnā ijtinābah.
Baca Juga: Menahan yang Tak Perlu: Cara Puasa Sunnah Menjernihkan Hati dan Pikiran
Artinya:
Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.
Doa ini sering diamalkan oleh para kiai dan jurnalis muslim agar hatinya dijaga dari bias dan matanya melihat dengan nur (cahaya iman), bukan sekadar visual.
Dunia pesantren mungkin tak mengenal rating, tapi mengenal barokah.
Ia tak memerlukan kamera untuk bersinar, karena cahaya ilmunya memancar dari keikhlasan para guru dan murid.
Tugas media hari ini adalah menata ulang sudut pandang dari sekadar mengambil gambar menjadi mengambil makna. Jika pesantren adalah lentera, maka tugas media bukan memamerkan cahayanya, melainkan membantu agar cahayanya sampai pada hati yang gelap.
Baca Juga: Larangan Santri Keluar Tanpa Izin: Bentuk Pengendalian Diri yang Mulia
Artikel Terkait
Dari Ngaji ke Adab: Bagaimana Larangan di Pesantren Mendidik Jiwa Tangguh
Misteri Larangan Tidur Pagi di Pesantren: Antara Disiplin dan Barokah
Hening yang Menyapa Langit: Saat Puasa Sunnah Menjadi Doa yang Tak Terucap