tafaquh

Ketika Pesantren Jadi Konten: Trans7 dan Krisis Representasi Budaya Islam

Sabtu, 18 Oktober 2025 | 12:35 WIB
Di balik kamera yang merekam kehidupan pesantren, ada kisah yang lebih dalam: perjuangan menjaga adab dan makna di tengah dunia yang sibuk menonton. (Foto/Ilustrasi)

Santri bukan hanya sosok bersarung yang pandai mengaji, tapi juga generasi yang berpikir kritis dan berkontribusi nyata. Ketika media gagal menunjukkan hal ini, yang muncul adalah stereotip: santri yang lugu, kiai yang misterius, pesantren yang mistik.

Baca Juga: Menahan yang Tak Perlu: Cara Puasa Sunnah Menjernihkan Hati dan Pikiran

IFA.id menilai inilah bentuk krisis pemahaman budaya pesantren yang kian meluas. Tayangan televisi cenderung “menjual” sisi visual dan melupakan kedalaman spiritual.

Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah sistem kebudayaan. Di dalamnya, ada nilai tawadhu’, ikhlas, dan ta’dzim kepada guru. Ada tradisi yang tak bisa dipahami hanya lewat kamera: duduk di hadapan kiai, menunggu giliran ngaji, atau membersihkan surau dengan cinta.

Namun media visual sering kali memotong realitas menjadi fragmen: cepat, lucu, dramatis. Akibatnya, pesantren kehilangan kedalaman maknanya di mata publik.
Yang tertinggal hanyalah “cerita menarik”, bukan “nilai luhur”.

Sebagian menyalahkan media, sebagian menyalahkan audiens. Tapi kuncinya adalah literasi.
Ketika masyarakat lebih suka yang viral daripada yang bernilai, maka media pun akan mengikuti arah pasar.

Baca Juga: Larangan Santri Keluar Tanpa Izin: Bentuk Pengendalian Diri yang Mulia

Namun di sinilah tanggung jawab moral media seperti Trans7 diuji: menjaga keseimbangan antara komersialisme dan kebenaran budaya.

Karena pesantren bukan bahan tontonan semata, tapi aset peradaban bangsa yang harus dihormati.

IFA.id sempat mewawancarai seorang santri di Cirebon, yang pesantrennya pernah diliput untuk program televisi nasional.

“Waktu itu kami senang,” katanya. “Tapi ketika tayangan keluar, yang ditampilkan hanya hal-hal lucu. Padahal kami berharap ada yang menyorot kegiatan ngaji dan diskusi kitab.”

Baca Juga: Hening yang Menyapa Langit: Saat Puasa Sunnah Menjadi Doa yang Tak Terucap

Kekecewaan kecil itu menggambarkan kenyataan besar: pesantren sering kali tak berdaya menentukan narasinya sendiri di media arus utama.

Sudah saatnya media menjadikan pesantren bukan sekadar objek, tapi subjek.
Program televisi bisa menjadi jembatan antara dunia pesantren dan masyarakat luas—asal dibuat dengan empati dan riset.

IFA.id mendorong kolaborasi antara media dan lembaga pendidikan Islam agar muncul tayangan yang bukan hanya menarik, tapi juga mencerahkan.

Halaman:

Tags

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB