Doa untuk Media dan Pemahaman
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnā ittibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnā ijtinābah.
Baca Juga: Misteri Larangan Tidur Pagi di Pesantren: Antara Disiplin dan Barokah
Artinya:
Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar sebagai kebenaran dan karuniakanlah kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami yang batil sebagai kebatilan dan berilah kekuatan untuk menjauhinya.
Doa ini menjadi refleksi agar media, penonton, dan masyarakat selalu mencari kebenaran, bukan sekadar sensasi.
Ketika pesantren muncul di layar, yang terlihat bukan hanya bangunan atau seragam santri.
Yang harusnya tersampaikan adalah nilai: kesederhanaan, keikhlasan, dan adab.
Namun di tengah derasnya industri hiburan, nilai-nilai itu kerap tergeser oleh keinginan “mencari rating”.
Baca Juga: Dari Ngaji ke Adab: Bagaimana Larangan di Pesantren Mendidik Jiwa Tangguh
IFA.id mengingatkan, media memiliki kekuatan membentuk citra publik. Jika pesantren direpresentasikan dengan benar, ia bisa menjadi inspirasi nasional. Tapi jika disalahpahami, ia bisa menjadi bahan candaan yang menyesatkan.
Di sinilah pentingnya kesadaran kolektif antara media, pesantren, dan penonton untuk memahami bahwa setiap tayangan adalah cermin budaya. Dan pesantren, seharusnya, bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan.
Baca Juga: Larangan Pacaran di Pesantren: Bukan Soal Cinta, Tapi Soal Martabat
Artikel Terkait
7 Larangan Unik di Pesantren yang Ternyata Punya Makna Spiritual Mendalam
Kenapa Santri Tak Boleh Bawa HP? IFA.id Mengungkap Fakta Menarik di Baliknya