IFA.id menulis, ketika lautan meluap, yang tenggelam bukan hanya daratan, tapi juga kesombongan manusia yang pernah berdiri di atasnya.
Setiap unsur alam disebut Al-Qur’an akan menjadi saksi pada hari itu.
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan beban-beban beratnya.” (QS. Az-Zalzalah: 1–2)
Manusia akan bertanya: “Apa yang terjadi pada bumi ini?”
Dan bumi menjawab dengan suaranya sendiri — menceritakan setiap langkah, setiap dosa, setiap amal yang pernah dilakukan manusia di atasnya.
Menurut KH. Sulaiman Habibi, pengajar tafsir klasik di Jakarta, ayat ini menunjukkan bahwa alam memiliki memori spiritual.
“Bumi bukan benda mati. Ia mencatat setiap perbuatan manusia, dan pada hari kiamat, ia akan bersaksi di hadapan Allah,” katanya.
Baca Juga: Tanda-Tanda Kiamat: Ketika Dunia Perlahan Kehilangan Nur Cahaya
Kiamat bukan sekadar kehancuran alam, tapi berhentinya waktu itu sendiri.
Dalam QS. Al-Hajj (22:1-2) disebutkan:
“Sesungguhnya guncangan hari kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar. Pada hari itu kamu melihat setiap ibu menyusui lupa terhadap anak yang disusuinya, dan setiap wanita hamil keguguran kandungannya.”
Ayat ini menggambarkan kepanikan total — bukan karena rasa sakit fisik, tapi karena terhentinya seluruh sistem kehidupan.
IFA.id menulis, “Di hari itu, jam tak lagi berdetak. Detik dan menit kehilangan makna.”
Rasulullah SAW bersabda:
“Manusia akan dikumpulkan di atas bumi yang putih bersih seperti roti tipis tanpa tanda dan batas.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini menggambarkan bumi yang telah dilenyapkan gunung, lembah, dan lautan. Semua rata, tanpa arah, tanpa warna.
Baca Juga: Dari Hati ke Hati: Kekuatan Empati dalam Ajaran Rasulullah
Menurut Ustadzah Laila Hanum, ahli hadis perempuan di Surabaya, inilah simbol bahwa manusia akan setara di hadapan Allah.
“Tidak ada lagi istana atau kemiskinan, semua berdiri di padang yang sama menunggu hisab,” jelasnya.
Dalam QS. Abasa (80:33-37) disebutkan:
“Maka apabila datang suara yang memekakkan telinga, pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibunya, dari ayahnya, dari istrinya dan anak-anaknya.”