tafaquh

Imam Abu Hanifah: Mujtahid Besar dari Kufah dan Pendiri Mazhab Hanafi

Senin, 8 September 2025 | 08:03 WIB
Ilustrasi Imam Abu Hanifah, pendiri Mazhab Hanafi yang hidup di Kufah pada abad kedua Hijriyah.” (IFA.id)



IFA.id-
Lebih dari 1.300 tahun lalu, seorang pemuda cerdas dari Kufah meninggalkan kesibukan berdagang demi menekuni ilmu-ilmu agama. Dialah Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit, tokoh besar yang kelak dikenang sebagai pendiri mazhab Hanafi, salah satu mazhab fikih terbesar dalam Islam. Kisah hidupnya bukan hanya tentang kecerdasan intelektual, tetapi juga tentang keberanian, kedermawanan, dan dedikasi terhadap ilmu.

Kehidupan Awal di Kufah

Abu Hanifah lahir di Kufah pada tahun 80 H/699 M. Kufah sendiri adalah kota baru yang dibangun di tepian Sungai Eufrat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Semula kota ini berfungsi sebagai pusat militer, namun kemudian berkembang menjadi pusat peradaban Islam dengan masjid-masjid megah dan majelis ilmu yang ramai.

Ayah Abu Hanifah, Tsabit bin Zauti, adalah seorang pedagang kain. Dari keluarga ini, ia mewarisi kecakapan dalam dunia bisnis. Namun, sejak kecil hatinya terpaut pada masjid dan ilmu agama. Pertemuan singkat dengan seorang ulama besar tabi’in, Amir bin Syurahbil asy-Sya’bi, menjadi titik balik dalam hidupnya. Sang ulama menasihatinya agar tidak larut dalam pasar, tetapi menekuni ilmu. Nasehat ini begitu membekas, hingga Abu Hanifah muda mengubah arah hidupnya.

Baca Juga: Imam Abu Hanifah: Pendiri Mazhab Hanafi dan Kejeniusan Ilmunya

Perjalanan Menuntut Ilmu

Semangat belajar Abu Hanifah tidak terbendung. Pada usia belasan tahun, ia telah menghafal Al-Qur’an dan mendalami ilmu qira’ah dari Imam Ashim, salah satu peletak dasar bacaan tujuh qira’ah. Tidak hanya itu, ia juga belajar hadis, fikih, dan berbagai cabang ilmu agama dari ribuan guru.

Catatan sejarah menyebutkan ia belajar pada 4.000 guru. Di antara yang paling berpengaruh adalah Imam Hammad bin Abu Sulaiman, ulama besar Kufah yang kelak menjadikannya asisten sekaligus pengganti dalam majelis fikih. Dari gurunya ini, Abu Hanifah belajar mendalami fikih dan hadis dengan metodologi yang sistematis.

Perjalanannya tidak terbatas di Kufah. Ia berulang kali pergi ke Makkah dan Madinah, bukan hanya untuk berhaji—yang ia lakukan hingga 55 kali—tetapi juga untuk menimba ilmu dari ulama-ulama besar, termasuk tabi’in dan beberapa sahabat Nabi SAW yang masih hidup kala itu.

Baca Juga: Imam Malik: Pendiri Mazhab Maliki dan Keilmuannya dalam Hadis

Guru dan Jaringan Intelektual

Di antara guru-gurunya yang berpengaruh adalah:

  • Atha’ bin Abi Rabah, ulama besar Mekah.
  • Nafi’ Maula Ibnu Umar, perawi hadis dari sahabat Ibnu Umar.
  • Imam Ja’far ash-Shadiq, tokoh besar keluarga Nabi SAW.
  • Ibnu Syihab az-Zuhri, ahli hadis terkemuka.

Dengan berguru pada ulama dari berbagai wilayah, Abu Hanifah memiliki wawasan yang luas dan metodologi fikih yang khas. Ia dikenal mengutamakan ra’yu (rasionalitas) dan qiyas (analogi) ketika menghadapi masalah hukum, tanpa mengabaikan Al-Qur’an dan hadis.

Abu Hanifah di Kufah: Guru dan Mujtahid

Ketika Imam Hammad wafat, Abu Hanifah menggantikan posisi gurunya sebagai pemimpin majelis ilmu di Masjid Kufah. Murid-muridnya datang dari berbagai penjuru negeri untuk belajar fikih. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga membentuk lingkaran diskusi (halaqah) di mana murid-murid bisa bertanya dan berdiskusi secara kritis.

Ketenaran Abu Hanifah membuatnya disegani, namun juga menghadirkan tantangan. Ia kerap berselisih dengan penguasa karena keberaniannya menyampaikan kebenaran. Bahkan, ia beberapa kali ditawarkan jabatan hakim oleh khalifah, tetapi menolaknya karena khawatir tidak dapat menegakkan hukum dengan adil di bawah tekanan politik.

Baca Juga: Jejak Ilmiah Imam Syafi’i; Dari Gaza ke Mesir, Melahirkan Mazhab Besar Islam

Halaman:

Tags

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB