Jaringan keilmuannya juga berhubungan dengan ulama Nusantara lain di Mekkah, seperti Syekh Abdul Shamad al-Palimbani dan Syekh Dawud al-Fatani. Mereka bersama-sama memperkuat peran ulama Nusantara di dunia Islam.
Reputasi di Asia Tenggara
Nama Syekh Arsyad terkenal luas di Asia Tenggara. Kitab Sabilal Muhtadin menjadi pegangan masyarakat Muslim di Brunei dan Malaysia. Bahkan, pemerintah Brunei mencetak ulang kitab itu sebagai rujukan resmi hukum Islam.
Hal ini membuktikan bahwa ulama Nusantara mampu menulis karya yang mendunia dan bertahan lintas generasi.
Wafat dan Warisan
Syekh Arsyad wafat pada tahun 1812 di Kalampayan, Martapura. Ia dimakamkan di dekat pesantren yang ia dirikan. Hingga kini, makamnya ramai diziarahi masyarakat, menjadi bukti cinta umat kepadanya.
Warisan sejatinya adalah kitab-kitab yang ia tinggalkan, yang terus dipelajari hingga ratusan tahun setelah wafatnya.