IFA.id- Jika al-Qur’an ibarat cahaya, maka tafsir adalah lentera yang membuat cahaya itu tampak jelas bagi manusia. Di Indonesia, cahaya itu tidak pernah padam. Dari pesantren Jawa di era kolonial, hingga televisi dan YouTube masa kini, tafsir terus hidup bersama umat. Inilah kisah jejak tafsir Nusantara, dari Kiai Shaleh Darat hingga Prof. Quraish Shihab.
Abad ke-19, Belanda melarang penerjemahan al-Qur’an. Tapi Kiai Shaleh Darat berani menulis tafsir Faidh al-Rahman dengan bahasa Jawa Pegon. Karyanya bukan hanya menjelaskan ayat, tapi juga membebaskan rakyat dari kebodohan yang dipaksakan kolonial. Bahkan R.A. Kartini merasa tersentuh saat mendengar tafsir beliau, hingga meminta tafsir al-Fatihah khusus untuknya. Tafsir menjadi senjata intelektual melawan penjajahan.
Syekh Nawawi: Tafsir Nusantara Mendunia
Dari Banten, lahirlah ulama besar di Mekkah, Syekh Nawawi al-Bantani. Tafsirnya, *Marah Labid*, ditulis dalam bahasa Arab dan menjadi rujukan hingga Universitas Al-Azhar Mesir. Coraknya riwayah dengan sentuhan sufistik, menekankan nilai humanisme: anti penindasan, kebebasan beragama, dan pengakuan pluralitas. Nawawi membuktikan bahwa karya ulama desa kecil bisa mendunia.
Baca Juga: Tafsir Marah Labid: Warisan Syekh Nawawi yang Mendunia
Hasbi Ash-Shiddieqy: Tafsir Berbahasa Indonesia
Memasuki abad ke-20, ulama Aceh, Hasbi Ash-Shiddieqy, menghadirkan Tafsir An-Nur—tafsir pertama berbahasa Indonesia. Karya ini menjembatani pesan al-Qur’an dengan masyarakat modern. Hasbi menulis dengan gaya akademis tapi tetap membumi. Ia berbicara tentang keadilan sosial, demokrasi, dan kebangsaan. Inilah tafsir yang membuktikan bahwa Islam bisa berdialog dengan konteks Indonesia.
Baca Juga: Humanisme dalam Tafsir Syekh Nawawi al-Bantani
Tafsir Al-Azhar dari Penjara
Hamka menulis tafsir *Al-Azhar* bukan di ruang akademik, tetapi di balik jeruji penjara. Tafsir ini menjadi saksi betapa iman dan intelektual bisa tetap hidup meski dalam keterbatasan. Karya Hamka menekankan nilai-nilai moral, spiritualitas, dan semangat kebangsaan. Hingga kini, tafsir Al-Azhar menjadi bacaan populer di pesantren dan masyarakat luas.
Quraish Shihab: Tafsir di Era Digital
Generasi berikutnya, Prof. Quraish Shihab, membawa tafsir ke ruang publik dengan bahasa yang indah dan mudah dipahami. Tafsir *Al-Mishbah* menjadi rujukan kontemporer yang populer di televisi dan media digital. Quraish Shihab membumikan pesan al-Qur’an untuk generasi milenial, dengan bahasa yang hangat, dialogis, dan relevan dengan persoalan modern.
Baca Juga: Tafsir Marah Labid: Warisan Syekh Nawawi yang Mendunia
Dari lima tokoh ini, terlihat benang merah tafsir Nusantara: