- Membumi → Shaleh Darat menulis dengan bahasa rakyat.
- Mendunia → Nawawi membawa karya Nusantara ke Al-Azhar.
- Modern → Hasbi menghadirkan tafsir berbahasa Indonesia.
- Moral-spiritual → Hamka menulis tafsir yang penuh jiwa kebangsaan.
- Digital → Quraish Shihab membumikan tafsir di era televisi dan media sosial.
Jejak tafsir Nusantara membuktikan bahwa tafsir bukan sekadar kajian akademik, tetapi selalu hadir menjawab tantangan zaman. Dari kolonialisme, kebangkitan nasional, demokrasi, hingga era digital, tafsir menjadi lentera yang menuntun umat.
Baca Juga: Perlawanan Intelektual Shaleh Darat lewat Tafsir
Tafsir Nusantara adalah warisan intelektual yang kaya. Dari Shaleh Darat hingga Quraish Shihab, tafsir terus hidup dan berkembang, mengikuti perjalanan bangsa Indonesia. Setiap generasi punya caranya sendiri untuk menghadirkan cahaya al-Qur’an, tapi tujuan tetap sama: menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Artikel ini disarikan dari buku *Kajian Kitab Tafsir Indonesia* karya Waliko M.A, dkk. (2021), yang menyingkap peran ulama Nusantara dalam tradisi tafsir.
Sumber:
Waliko M.A, dkk. *Kajian Kitab Tafsir Indonesia*. Jombang: CV Nakomu, 2021.
Artikel Terkait
Memahami Kematian: Perspektif Psikologi Eksistensial dan Islam
Pemimpin yang Benar Tidak Takut Disanggah: Kritik adalah Nafas Organisasi
Mengapa Kita Harus Berpikir Kritis: Melawan Budaya Tunduk Buta
Berani Bertanya, Berani Mengganggu, Berani Mengubah
Mengukir Prestasi di OSN: Perjalanan Muhidin Menuju Medali Perak dan Semangat Tak Kenal Lelah