Daging unta sendiri telah lama menjadi makanan pokok masyarakat Jazirah Arab. Teksturnya cenderung berserat, tetapi rendah lemak. Kandungan proteinnya tinggi, dan secara alami kaya akan mineral seperti zat besi, natrium, magnesium, dan zinc.
Baca Juga: Khasiat Daging Unta dalam Pengobatan Islami
Para peneliti modern menemukan bahwa daging unta memiliki kadar kolesterol lebih rendah dibandingkan daging sapi.
Hal ini membuat sebagian masyarakat Timur Tengah menjadikannya pilihan makanan yang lebih sehat, terutama bagi yang ingin menjaga kadar lemak dan tekanan darah.
Kombinasi nilai gizi dan penggunaan tradisional inilah yang memperkuat pandangan bahwa daging unta mempunyai manfaat medis, bukan sekadar makanan.
Yang menarik, dalam literatur pengobatan Islam, daging unta disebut memiliki efek khusus bagi tubuh tertentu.
Baca Juga: Alhamdulillah Mengundang Rahmat Allah
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam karya monumentalnya, Zad al-Ma'ad, menjelaskan bahwa unta hidup di kondisi keras, memakan tanaman gurun yang tumbuh liar dan kuat.
Karena itu, ia mencatat bahwa daging unta mengandung panas alami dan memiliki sifat menyehatkan bagi orang yang tubuhnya cenderung lembap atau lemah.
Penjelasan ini serupa dengan prinsip pengobatan Greco-Arabic yang membagi makanan berdasarkan sifat panas dan dingin. Daging unta, kata para ulama, cocok untuk menguatkan badan, memperbaiki stamina, dan membantu mengatasi beberapa masalah pencernaan.
Masyarakat Bedouin yang hidup di padang pasir pun sering menjadikan daging unta sebagai makanan pokok untuk menjaga kekuatan tubuh. Mereka percaya bahwa daging ini memberi tenaga lebih lama dan membantu menghadapi suhu ekstrem yang menguras energi.
Baca Juga: Alhamdulillah dan Kekuatan Syukur Sejati
Di beberapa wilayah Arabia, daging unta juga direbus bersama rempah-rempah untuk menghangatkan badan dan mengobati keluhan dingin pada persendian. Kebiasaan ini masih bertahan hingga sekarang, terutama di daerah pedalaman Arab Saudi dan Yaman.
Meski demikian, pandangan Islam mengenai makanan tidak pernah terlepas dari konsep moderasi. Bahkan ketika daging unta mengandung banyak manfaat, tidak dianjurkan mengonsumsinya berlebihan.
Rasulullah sendiri tidak menjadikannya makanan harian, tetapi mengonsumsinya sesuai kebutuhan. Prinsip keseimbangan menjadi bagian penting dari syariat, termasuk dalam hal konsumsi makanan.
Artikel Terkait
Benarkah Salam Membuka Pintu Rezeki? Penjelasan Ulama
Sunnah Salam yang Dilupakan Generasi Modern
Makna Assalamu’alaikum dan Jawabannya yang Benar
Keajaiban Alhamdulillah dalam Hidup Muslim