IFA.id – Ketika membahas pengobatan Islami, mayoritas orang langsung mengingat madu, habbatussauda, atau air zamzam. Namun, sedikit yang menyadari bahwa dalam tradisi Islam, daging unta juga disebut sebagai salah satu makanan yang memiliki khasiat pengobatan.
Penyebutannya tidak seterkenal bahan herbal lainnya, mungkin karena unta lebih banyak hidup di wilayah Arab, bukan di Nusantara.
Namun, jika menelusuri teks-teks klasik, hadis, hingga praktik pengobatan masyarakat Hijaz, terlihat jelas bahwa unta bukan hanya hewan tunggangan, tetapi juga sumber nutrisi dan penyembuhan.
Dalam berbagai riwayat, unta disebut sebagai hewan yang memiliki ketahanan luar biasa. Ia mampu bertahan di gurun tandus, menghadapi panas ekstrem, dan menyimpan energi dalam waktu lama.
Baca Juga: Alhamdulillah Mengundang Rahmat Allah
Sebagian ulama berpendapat bahwa ketahanan hewan ini tercermin pula dalam kualitas dagingnya.
Tidak sedikit ahli fikih dan tabib Muslim zaman dahulu yang menyinggung manfaat daging unta, terutama dalam konteks memperkuat fisik, memperbaiki stamina, dan membantu kondisi tertentu yang berkaitan dengan keseimbangan tubuh.
Salah satu contoh yang sering dibahas adalah hadis tentang sekelompok orang dari kabilah Urainah yang mengalami sakit karena perubahan cuaca setelah mereka tiba di Madinah.
Nabi Muhammad kemudian mengarahkan mereka untuk meminum susu unta dan kencingnya, sebuah pengobatan yang dikenal di Jazirah Arab sebagai terapi untuk kondisi tubuh tertentu.
Baca Juga: Alhamdulillah dan Kekuatan Syukur Sejati
Walaupun riwayat ini lebih sering dibahas dari sisi terapi susu dan urin unta, keberadaan daging unta dalam diet masyarakat saat itu juga menjadi bagian dari metode penguatan tubuh.
Dalam konteks kesehatan, beberapa ulama menjelaskan bahwa konsumsi daging unta dapat membantu tubuh menjadi lebih hangat dan bertenaga, terutama bagi mereka yang sering mengalami kelemahan fisik.
Di sejumlah kitab pengobatan klasik, daging unta juga disebut memiliki sifat penghangat alami. Dalam ilmu pengobatan tradisional Arab, makanan yang bersifat hangat dinilai mampu menggerakkan energi tubuh, membantu metabolisme, serta mengurangi rasa lelah.
Artikel Terkait
Mengapa Salam Jadi Simbol Cinta dan Damai?
Adab Mengucapkan Salam yang Sering Terabaikan
Keutamaan Salam Menurut Hadis: Lebih Besar dari yang Dibayangkan
Benarkah Salam Membuka Pintu Rezeki? Penjelasan Ulama