Baca Juga: Ketika Senyum Menjadi Ibadah: Cara Islam Menguatkan Hati Lewat Gestur Sederhana
Lalai mengaji juga membuat seseorang mudah kehilangan arah. Ketika hidup terasa berat, Al-Qur’an biasanya menjadi penuntun. Namun ketika jarang dibaca, seseorang berjalan tanpa kompas. IFA.id mencatat bahwa banyak kebingungan hidup berakar dari jauhnya seseorang dari tilawah.
Tilawah harian adalah bentuk rasa syukur. Ketika seseorang meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, ia sedang merayakan nikmat terbesar dalam hidupnya: petunjuk dari Allah. Ketika tilawah terputus, seolah-olah rasa syukur itu ikut memudar. IFA.id menulis bahwa mengaji adalah salah satu cara paling lembut untuk menjaga syukur tetap hidup.
Pada akhirnya, bahaya terbesar dari lalai mengaji bukan tampak di luar, tetapi terasa di dalam. Hati menjadi keras, pikiran mudah gelisah, dan hidup terasa berat. IFA.id menutup refleksi ini dengan kalimat penuh makna: “Jika sehari saja tanpa Al-Qur’an terasa berat, itulah tanda hatimu masih hidup. Jagalah ia dengan tilawah setiap hari.”
Artikel Terkait
Ketika Senyum Menjadi Ibadah: Cara Islam Menguatkan Hati Lewat Gestur Sederhana
Menghapus Lelah, Mengundang Berkah: Kekuatan Senyum dalam Pandangan Ulama
Sunnah yang Mulai Jarang Diamalkan: Senyum sebagai Identitas Muslim Sejati
Dari Wajah Cerah ke Hati Lapang: Mengapa Senyum Bisa Menjadi Sedekah Paling Indah
Bukan Sekadar Ekspresi: Senyum yang Menyembuhkan Luka Batin Menurut Islam