Kamis, 4 Juni 2026

Jangan Sampai Putus: Bahaya Lalai Mengaji Meski Hanya Satu Hari

- Selasa, 18 November 2025 | 11:46 WIB
Bahaya Lalai Mengaji Meski Hanya Satu Hari (Foto/Ilustrasi)
Bahaya Lalai Mengaji Meski Hanya Satu Hari (Foto/Ilustrasi)

IFA.Id - Mengaji adalah salah satu ibadah yang paling lembut, tetapi sekaligus paling mudah ditinggalkan. Banyak muslim merasakan bahwa ketika tilawah terputus hanya sehari saja, hati menjadi lebih berat, pikiran lebih bising, dan ibadah lainnya terasa kurang hidup. IFA.id mencatat bahwa ini bukan kebetulan, melainkan tanda bahwa Al-Qur’an adalah “makanan harian” hati yang tidak boleh absen.

Rasulullah SAW memperingatkan bahwa hati bisa berkarat seperti besi. Salah satu obatnya adalah membaca Al-Qur’an. Ketika seseorang berhenti mengaji, meski hanya sehari, karat itu mulai muncul sedikit demi sedikit. IFA.id menulis bahwa bahaya terbesar dari lalai mengaji bukan hilangnya pahala, tetapi hilangnya sensitivitas hati.

Lalai mengaji membuat hati kehilangan cahayanya. Ketika ayat-ayat Allah tidak lagi diperdengarkan, hati perlahan menjadi tumpul. Ia menjadi mudah marah, mudah cemas, dan sulit tenang. IFA.id menilai bahwa ketenangan batin bergantung pada seberapa sering seseorang terhubung dengan firman Allah.

Banyak ulama menjelaskan bahwa tilawah harian bukan amalan tambahan, tetapi kebutuhan dasar. Seseorang yang berhenti mengaji akan merasakan kekosongan yang sulit dijelaskan. IFA.id mencatat bahwa kekosongan itu bukan karena kurang aktivitas, melainkan karena hati kehilangan cahaya yang biasanya memandunya.

Baca Juga: Mereka yang Dicintai Allah: Golongan Ahli Qur’an di Mata Rasulullah

Mengaji setiap hari juga menjaga hubungan seseorang dengan Rabbnya. Ketika ayat-ayat Allah mengalun setiap hari, seseorang mengingat tujuan hidupnya. Namun ketika tilawah terputus, ia mulai sibuk dengan urusan dunia hingga lupa hakikat keberadaannya. IFA.id melihat bahwa lalai sehari bisa menjadi awal dari lalai-lalai berikutnya.

Lalai mengaji juga membuka pintu bagi waswas dan pikiran negatif. Ayat-ayat Allah yang biasanya menjadi penenang kini tidak hadir untuk meredam kegelisahan. Akibatnya, seseorang lebih mudah merasa tertekan. IFA.id menulis bahwa tilawah harian adalah bentuk proteksi jiwa yang bekerja secara halus.

Bagi sebagian orang, berhenti mengaji sehari tampak biasa. Namun lama-kelamaan, berhenti sehari berubah menjadi dua hari, seminggu, bahkan sebulan. Kebiasaan baik memudar secara perlahan. IFA.id menilai bahwa jauhnya seseorang dari Al-Qur’an sering terjadi bukan karena niat buruk, tetapi karena lalai sedikit demi sedikit.

Mengaji setiap hari juga menjaga hati tetap lembut. Ketika ayat-ayat tentang rahmat dibaca, hati menjadi penuh harapan. Ketika ayat tentang ancaman dibaca, hati menjadi penuh kewaspadaan. Namun ketika tilawah berhenti, keseimbangan itu hilang. IFA.id melihat bahwa hati tanpa Al-Qur’an seperti bumi tanpa hujan—kering dan rapuh.

Baca Juga: Senyum yang Dicatat Malaikat: Rahasia Amal Ringan Favorit Nabi

Lalai mengaji juga berdampak pada ibadah lain. Shalat terasa hambar, dzikir terasa berat, dan sedekah terasa kurang ikhlas. Ini karena Al-Qur’an adalah sumber energi bagi seluruh ibadah. IFA.id menulis bahwa kehilangan tilawah harian berarti mengurangi kekuatan spiritual seseorang pada hari itu.

Ketika seseorang berhenti mengaji, ia lebih mudah melakukan dosa ringan tanpa rasa bersalah. Ini bukan karena ia sengaja, tetapi karena hatinya tidak lagi peka. Ayat-ayat Allah yang biasanya mengingatkan tidak hadir untuk menegur. IFA.id mencatat bahwa Al-Qur’an adalah penjaga hati dari kelalaian yang tidak disadari.

Mengaji setiap hari tidak harus lama. Bahkan satu halaman atau satu ayat pun bisa menjaga koneksi dengan Al-Qur’an. Yang penting adalah kontinuitas. IFA.id menilai bahwa sedikit yang rutin lebih kuat pengaruhnya daripada banyak yang sesekali.

Dalam keluarga, jika satu orang berhenti mengaji, suasana rumah perlahan berubah. Ketegangan lebih mudah muncul, kedamaian berkurang, dan hubungan terasa kering. Al-Qur’an membawa malaikat ke dalam rumah, sehingga jika tilawah terhenti, cahaya itu meredup. IFA.id menulis bahwa mengaji adalah penjaga suasana rumah agar tetap teduh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X