Kamis, 4 Juni 2026

Muslim Feminist: Gerakan dan Pemikiran untuk Kesetaraan Gender dalam Islam

- Jumat, 31 Oktober 2025 | 12:53 WIB
Cahaya kesetaraan tak datang dari perlawanan, melainkan dari keberanian menafsir ulang ajaran dengan hati yang adil. (Foto/Ilustrasi)
Cahaya kesetaraan tak datang dari perlawanan, melainkan dari keberanian menafsir ulang ajaran dengan hati yang adil. (Foto/Ilustrasi)

Mereka bukan sekadar aktivis sosial, melainkan juga cendekiawan yang menulis, menafsir, dan berdialog tentang posisi perempuan dalam Islam.

Amina Wadud, misalnya, terkenal dengan pendekatan tafsirnya yang disebut gender-inclusive exegesis menafsir Al-Qur’an dengan mempertimbangkan keadilan bagi laki-laki dan perempuan secara seimbang.

Baca Juga: Guru Sebagai Jalan Pahala: Mengajar dan Belajar dalam Timbangan Ibadah

Dalam karyanya Qur’an and Woman, ia menegaskan bahwa teks suci Islam tidak bias gender; yang bias adalah cara manusia menafsirkannya.

Di Indonesia, gerakan serupa tumbuh lewat organisasi dan komunitas seperti Rahima, Musawah, dan Fahmina Institute. Mereka aktif mengedukasi masyarakat, mempromosikan tafsir keagamaan yang adil gender, dan membela korban kekerasan berbasis gender atas nama agama.

Membongkar Patriarki yang Menyamar atas Nama Agama

Salah satu kontribusi penting Muslim Feminist adalah keberaniannya mengkritik cara pandang patriarki yang sering membungkus diri dalam jubah agama.

Misalnya, tafsir yang menempatkan perempuan hanya sebagai “pelengkap” laki-laki, atau yang membatasi peran publik mereka, kini mulai dikaji ulang dengan pendekatan ilmiah dan spiritual.

Baca Juga: Adab Sebelum Ilmu: Jalan Menuju Keberkahan Belajar yang Hakiki

IFA.id menemukan bahwa banyak hadis dan tafsir yang selama ini dijadikan dasar untuk “membatasi perempuan” ternyata punya konteks sosial tertentu bukan hukum universal.

Misalnya, perdebatan tentang kepemimpinan perempuan atau peran mereka di ruang publik, kini banyak ditafsir ulang berdasarkan semangat keadilan sosial yang dibawa Al-Qur’an.

Bagi Muslim Feminist, ketaatan kepada Allah justru berarti menegakkan keadilan di segala aspek, termasuk dalam relasi gender. Karena bagaimana mungkin Islam yang menegakkan prinsip keadilan (adl) membiarkan ketimpangan antara dua makhluk yang sama-sama dimuliakan?

Antara Teks dan Realitas: Menerjemahkan Kesetaraan dalam Kehidupan

Kesetaraan gender dalam Islam bukan hanya soal teori. Ia harus terlihat dalam kebijakan sosial, pendidikan, dan kehidupan keluarga.

Baca Juga: Doa Setelah Salat Jumat: Saat Hati dan Langit Saling Terhubung

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Keajaiban Sabar dalam Hidup Muslim

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Mengapa Sabar Membuka Jalan Kelapangan?

Sabtu, 29 November 2025 | 20:47 WIB

Sabar: Ujian Berat, Pahala Tanpa Batas

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Dampak Sabar pada Ketenangan Jiwa

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar, Perisai dari Ujian Hidup

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Sabar dan Kekuatan Mental Mukmin

Sabtu, 29 November 2025 | 20:46 WIB

Terpopuler

X