-
Mengisi formulir pendaftaran online.
-
Menyerahkan fotokopi rapor dua semester terakhir.
-
Mengikuti wawancara singkat tentang motivasi belajar dan komitmen ibadah.
Tak ada tes akademik rumit. Bahkan, bagi yang belum mahir baca Al-Qur’an, disediakan kelas khusus pra-tahsin. Pendekatan ini menjadikan Al-Ihsan dikenal sebagai pesantren dengan sistem pembinaan bertahap dan humanis.
3. Pesantren Daarut Tauhiid, Bandung (Ustaz Abdullah Gymnastiar)
Siapa tak kenal pesantren yang satu ini? Daarut Tauhiid (DT) terkenal dengan konsep manajemen qolbu dan pendidikan karakter Islami yang membumi.
Berbeda dengan pesantren salaf, DT tidak mengharuskan santri bisa bahasa Arab sejak awal.
Baca Juga: Pesantren Modern vs Salaf: Apakah Syarat Masuknya Berbeda?
Syarat utamanya justru sederhana:
-
Surat izin dari orang tua,
-
Keterangan sehat,
-
Dan kesediaan mengikuti pembinaan akhlak selama masa orientasi.
IFA.id menemukan bahwa Daarut Tauhiid menekankan aspek niat dan komitmen pribadi, bukan sekadar kemampuan akademik. Itulah sebabnya, banyak alumni DT sukses di bidang sosial, wirausaha, hingga dakwah digital.
4. Pesantren Al-Masthuriyah, Sukabumi
Salah satu pesantren tertua di Jawa Barat ini dikenal dengan perpaduan antara sistem salafiyah dan pendidikan formal modern. Menariknya, syarat masuknya kini dibuat lebih adaptif mengikuti kebutuhan zaman.
Pendaftar cukup mengisi formulir online, melampirkan ijazah terakhir, serta menjalani tes baca tulis Al-Qur’an sederhana. Tidak ada batas nilai minimal.
Artikel Terkait
Santri Zaman Now: Antara Kitab Kuning dan Dunia Digital
Rahasia Pesantren Melahirkan Pemimpin Hebat Indonesia
Transformasi Pesantren: Dari Surau Tradisional ke Smart Boarding