KH. Maimoen Zubair berkata: “Kalau ingin memperjuangkan Islam, perjuangkan dengan kelembutan. Jangan keras, karena Islam itu sendiri lembut.”
Baca Juga: Dari Pagi yang Berkah di Pesantren: Cahaya Santri Menyapa Negeri
Dari sini kita belajar bahwa bagi pesantren, demonstrasi bukan soal kerasnya suara, tapi beningnya niat dan adab.
Islam sangat menjunjung tinggi adab. Bahkan dalam menyampaikan kritik, Rasulullah ﷺ selalu menggunakan bahasa lembut. Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa untuk menegur Fir’aun — penguasa zalim Allah berfirman:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut.”
(QS. Thaha: 43–44)
Jika kepada Fir’aun saja harus lembut, apalagi kepada sesama muslim atau pemimpin negeri.
Itulah yang sering diingatkan para kiai: amar ma’ruf tidak boleh kehilangan marwah adab.
Karena tujuan dakwah bukan menjatuhkan, tapi menyadarkan.
Baca Juga: Lantunan Shalawat dan Doa Bersatu: Merayakan Hari Santri dengan Kedamaian
Pesantren mengajarkan bahwa suara keras belum tentu kebenaran, dan diam belum tentu kelemahan. Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama bukan dengan bentakan, tapi dengan ilmu dan adab.
Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah bukan dengan amarah, tapi dengan pendidikan.
Keduanya menunjukkan bahwa perjuangan sejati lahir dari keikhlasan, bukan kebencian.
Santri harus belajar dari keduanya: menyuarakan kebenaran dengan ilmu, dan memperjuangkan nilai dengan kasih sayang.
Demo yang benar bukanlah teriakan tanpa arah, melainkan seruan dengan ruh dakwah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya kelembutan tidaklah berada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan merusaknya.” (HR. Muslim)
Baca Juga: Santri Milenial, Pejuang Digital: Merekam Spirit Hari Santri di Era Teknologi
Inilah fondasi: dakwah harus lembut, karena kelembutan lebih kuat dari kekerasan. Bahkan dalam fiqih, amar ma’ruf harus dilakukan dengan hikmah (kebijaksanaan), mau‘izhah hasanah (nasihat yang baik), dan jidal billati hiya ahsan (perdebatan yang paling baik) sebagaimana QS. An-Nahl: 125.
Hari ini, tantangan bukan lagi bagaimana kita berani bicara, tapi bagaimana menjaga agar bicara kita tetap beradab.
Artikel Terkait
Ilmu Tanpa Amal: Cahaya yang Padam Sebelum Bersinar
Dari Ayat Pertama: Mengapa Islam Dimulai dengan Perintah Membaca
Santri Digital, Pelopor Inovasi Islam di Era Teknologi: Semangat Baru di Hari Santri 2025